Posted by: nia | November 28, 2012

Sebuah Pernikahan

Ruang KUA tempat aku menunggu proses akad nikah pagi ini masih terlihat sepi, hanya ada seorang pegawai yang terlihat memulai aktifitasnya. Calon suamiku duduk di dekatku, di sebuah bangku panjang yang memang disediakan untuk para tamu,  ia mencoba sesantai mungkin menghadapi moment pernikahan kami. Justru aku sebagai mempelai wanita yang  merasakan rasa gugup yang tak terlukiskan. Tak dapat kupungkiri betapa gelisah hati ini, tiap kali kupandangi  jam dinding, tiap kali juga kubuang pandangan. Belum puas menatap tiap detik ke arah jam dinding itu,  pandanganku kembali berlabuh di layar handphone yang sedari tadi kupegang. Dan orang-orang di sekitarku mencoba menenangkan. Sungguh aku ingin jarum jam berada di posisi tepat jam sepuluh pagi. Karena itulah saat ketegangan ini berakhir.

Yang terpatri dalam hatiku adalah menjalani akad nikah dengan cara paling sederhana. Namun biarpun sederhana,  tetap akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Jadilah kami berdua sepakat untuk melangsungkan akad nikah di KUA saja, dan tidak akan melibatkan banyak orang. Hanya beberapa orang terdekat saja yang kami undang.

Armand adalah kakak lelaki tertuaku, ia yang menjadi wali nikahku karena ayah telah tiada. Sempat aku merasa was-was ketika kakakku belum juga terlihat datang, maklumlah tempat tinggal kakakku sekitar 40 km dari sini. Ditambah oleh padatnya jalan raya, membuat waktu tempuh kadang tak bisa diprediksi. Saat kulihat kak Armand tiba dengan motor buatan jepang miliknya, barulah hatiku kembali tenang. Apalagi ketika itu kakakku telah siap dengan baju batik solo berwarna coklat cream, celana kain hitam serta sepatu hitam pula. Tubuhnya agak gendut dengan warna kulit kecoklatan,  dengan tinggi sekitar 170 cm. Wajah kak Arman terlihat berseri-seri.

Tak lama, seorang pegawai KUA datang dengan mengenakan jas hitam serta peci di kepalanya , membawa tas hitam yang dijinjing, rupanya ia bertindak sebagai hakim nikah/ penghulu. Usianya masih terlihat muda, mungkin selisih 6-7 tahun lebih tua dari calon suamiku. Kulitnya putih bersih, di bibirnya tersungging senyum. Lelaki itu kemudian masuk ke sebuah ruangan. Dalam hitungan beberapa menit, Ia meminta kami semua masuk ke ruangan, ternyata di dalam ruangan tersebut sudah tertata dengan apik tempat untuk melangsungkan akad nikah.

Aku dan calon suamiku duduk berdampingan, berhadapan dengan kakakku dan hakim nikah yang juga duduk berdampingan. Di depan kami ada sebuah meja kecil, di atas meja kecil itu diletakkan berkas administrasi persyaratan nikah yang sudah kami lengkapi. Sang hakim memeriksa sekali lagi berkasnya. Sementara undangan yang hadir duduk di belakang kami. Tak banyak, hanya ada bapa mertua, dua orang omm calon suamiku, pak rt dan istrinya, seorang tetangga depan rumah, dan  empat orang sahabat dekat kami .

Hening sejenak, pandangan hadirin tertuju kepada sang hakim nikah. Aku sendiri kemudian menundukkan pandangan, dengan detak jantung terasa yang kian cepat. Sejenak kuhela napas panjang mengusir rasa gugup, aku ingat sebuah do’a  yang diajarkan waktu di bangku TK dulu yaitu :

Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii

Artinya: Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)

Do’a itulah yang baca, karena aku sangat yakin bahwa Allah tidak akan mempersulit urusan hamba-Nya selama hamba-Nya itu selalu ingat kepada –Nya.

Hakim nikah rupanya tak membiarkan keheningan itu berlangsung lama, beliau langsung mengambil tindakan membuka proses akad nikah itu. “Bismillahirrahmanirrahiim , Assalamu’alaikum warahmatullahi  wabarakatuh, ,” dengan mengucapkan salam dan basmalah hakim itu membuka acara. Tangannya telah selesai  membolak-balik berkas yang ada di hadapan kami.

Setelah menyampaikan sedikit kalimat pembuka, hakim tersebut kemudian memulai tugasnya dengan sebuah pertanyaan kepada kakak kandungku.

“Saudara Armand, Apakah saudari Salsabila binti Fauzan Anshari (alm) adalah merupakan adik kandung?” tanyanya.

“Iya, benar!” jawab kakakku dengan tegas.

“Saudari Salsabila binti Fauzan Anshari (alm), apakah saudara Armand bin Fauzan Anshari (alm)  adakah kakak saudari?” Tanya hakim itu lagi kepadaku.

“Iya, kakak kandung!” jawabku singkat.

“Baiklah kalau begitu, jadi prosesi akad nikah ini bisa kita teruskan,” kata hakim nikah.

“Apakah saudara Armand selaku kakak kandung akan menjadi wali nikahnya, atau diwalikan kepada saya?” sang hakim bertanya kepada kakakku.

“Saya wakilkan kepada Anda untuk menjadi wali nikah adik saya,” jawab kak Armand.

***

Suasana kembali hening, terdengar sesekali hembusan napas undangan yang ada di belakang kami. Sepertinya mereka  juga ikut merasakan ketegangan ini, atau mungkin juga teringat nostalgia pernikahan mereka dulu.

“Baiklah, sekarang acara kita teruskan lagi. Nanti mempelai wanita, saudara kandungnya, dan mempelai pria,  akan saya minta mengulangi  kalimat yang saya ucapkan,” lanjut hakim sambil menatap ke arahku, rupanya akulah yang dapat giliran pertama. Aku menganggukkan kepala pertanda paham.

Terlebih dahulu aku dan kakakku diminta berjabat tangan. Masih dalam posisi berhadapan. Mulailah sang hakim nikah mengucapkan “Astagfirullahal azhiim al ladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaihi” sebanyak 3 kali. Dilanjutkan membaca dua kalimat syahadat, Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.”  Dan permohonan ijin dinikahkan, Kakak, saya mohon ijin dinikahkan dengan jejaka yang bernama Abdika bin Fahmi.”

Setelah hakim selesai mengucapkan itu, aku pun langsung  membaca istighfar sebanyak 3x, dan membaca dua kalimat syahadat dengan lancar. Hatiku bergetar dan mata ini terpejam menahan supaya jangan sampai  ada airmata. Tapi  saat aku memohon ijin kepada kak Armand sambil mencium tangannya dan berkata,” Kakak, saya mohon ijin dinikahkan dengan jejaka yang bernama Abdika bin Fahmi“. Tak terasa buliran bening menetes jua dari sudut mataku. Mengalir hangat di pipi … ada sebongkah rasa perih menyelinap memenuhi ruang kalbu. Ingatanku langsung tertuju kepada Ayah yang telah tiada dan tak  sempat menikahkan aku.

Sayup terdengar di belakangku  suara isak tangis sahabat yang ikut hadir, seorang sahabat wanita berpakaian seragam kantor. Mungkin ia takjub melihat betapa sakralnya sebuah pernikahan nan sederhana seperti ini, ketika ikatan pernikahan dimulai dengan niat yang kuat menyempurnakan separoh agama.

Ketika isak tangisku telah mereda, hakim itu berpindah ke kak Armand,  dan kembali ia membacakan istighfar sebanyak 3x,  dua kalimat syahadat, dan  mengajarkan kalimat penyerahan perwalian untuk diikuti oleh kakakku: “Astagfirullahal azhiim al ladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaihi” sebanyak 3 kali.

Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah”.

“Saya serahkan perwaliannya  adik saya yang bernama Salsabila binti Fauzan Ansari (alm)  untuk dinikahkan dengan seorang laki-laki bernama Abdika bin Fahmi. “

Kak Armand menirukan dengan lancar,  hakim pun membalas dengan  lafaz penerimaannya,  “saya terima perwaliannya  Salsabila Binti Fauzan Ansari (alm)  untuk dinikahkan dengan saudara Abdika bin Fahmi”.

Prosesi yang selanjutnya adalah khotbah oleh hakim nikah, suasana terasa begitu hening saat khotbah nikah dibacakan, batin dan jiwaku kembali bergetar, sang hakim membaca syahadat, shalawat, beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits serta nasihat yang berhubungan dengan perkawinan dan penjelasan tentang tujuan perkawinan untuk mencapai rumah tangga bahagia (sakinah mawaddah warahmah). Isi khotbah itu meresap ke dalam kalbuku.

***

Aku ingat pesan ibunda yang jauh di sana, meski tak hadir di sini namun ucapan beliau seakan terngiang-ngiang di telingaku.

“Wahai Anakku sayang, berusahalah mendapatkan kerelaan suamimu, buatlah hati suamimu selalu gembira. Berusahalah engkau menjadi bumi untuknya, niscaya dia akan menjadi langit untukmu. Jadilah engkau permadani untuknya, niscaya dia akan penjadi tiang penyangga untukmu. Jangan pernah ia mendengar darimu, kecuali perkataan  yang baik. Jangan biarkan ia menciummu, kecuali semerbak wewangian. Jangan biarkan ia memandang ke arahmu, kecuali memandang keindahan.

Jalinlah kerukunan, tunjukkanlah penerimaan yang ikhlas, karena sesungguhnya penerimaan yang ikhlas itu adalah menentramkan hati. Dan bergaullah dengan penuh perhatian dan ketaatan kepadanya, karena  pergaulan yang baik akan mendatangkan keridhaa Allah.

Perhatikanlah waktu makan  dan istirahatnya, sesungguhnya rasa lapar dan sulit tidur penyebab seseorang gampang marah.

Jagalah harta dan kerabatnya. Janganlah engkau menyebarkan rahasianya, sesungguhnya jika engkau menyebarkan rahasianya, dia akan murka kepadamu ,dan jangan pula engkau menentang perintahnya, karena jika engkau menentang perintahnya berarti engkau mengobarkan amarahnya.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kebaikan bagimu, ibunda menitipkanmu kepada Allah.”

Ya Allah, pesan ibunda begitu dalam, semoga aku mampu menunaikannya. Aamiin.

***

Seiring itu khotbah nikah berakhir, kini tiba saatnya mengucapkan ijab Kabul oleh calon suamiku… dibimbing oleh hakim nikah.

“Bismillahirrahmanirrohim. Astaghfirullahaladzim  wa a’tubu ilaih. Asyhaduanllaa ilaaha ilallah, wa’ashaduanna Muhammadarosulullah.

Saudara Abdika bin Fahmi, saya nikahkan dan kawinkan kamu, dengan saudari Salsabila binti Fauzan Anshari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar  TUNAI. Calon suamiku kemudian membaca “Bismillahirrahmanirrohim,. Astaghfirullahaladzim  wa a’tubu ilaih. Asyhaduanllaa ilaaha ilallah, wa’ashaduanna Muhammadarosulullah.

“Saya terima nikah dan kawinnya Salsabila binti Fauzan Anshari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar TUNAI.”

Alhamdulillah dengan sekali ucap Dika sukses, disaksikan oleh undangan yang hadir. Hakim nikah kemudian bertanya kepada dua orang saksi, “SAH???”

Para saksi menjawab serentak :”SAH!!” Lega rasanya ketika mendengar saksi telah berkata SAH, itu artinya pernikahan ini berjalan dengan lancar. Kebahagiaan terpancar dari kami semua, airmata yang sempat jatuh karena keharuan tadi, kini berganti dengan senyum ceria. Sebagai pasangan pengantin baru, kami harus menandatangani akte nikah. Karena pernikahan ini resmi dan telah dicatat di KUA. Tak lupa wali dan para saksi juga diminta tangan tangan di berkas yang sudah disediakan. Sungguh ini sebuah moment yang tak akan bias terulang lagi, mudah-mudahan menjadi berkah.

Tinggal satu prosesi lagi yaitu pembacaan ta’lik oleh suami, karena aku ingin suami membacakan itu.

Tak terasa, menit-menit berharga ini telah usai. Semua perjuangan untuk mencapai sebuah pernikahan suci berhasil kami lewati Dengan niat tulus ikhlas sebuah rumah tangga akan dimulai. Terimakasih Ya Allah, Engkau telah memberikan hamba seseorang yang terbaik, yang akan membimbingku menjalani kehidupan di dunia. Do’aku semoga hanya maut saja yang mampu memisahkan kami berdua, semoga mahligai rumah tangga yang kami bina akan menjadi lebih indah dengan kehadiran buah hati yang sholeh dan sholehah nanti. Dengan ijin dan kasih sayang-Mu. Insya Allah.


Responses

  1. Wahai saudariku, untuk apa kita memegang aturan lain jika syari’at dalam agama kita telah memerintahkan sesuatu yang lebih mudah dan mulia? Sesungguhnya sebagian wanita telah berbangga dengan tingginya mahar yang mereka dapatkan, maka janganlah kita mengikuti mereka. Berapa banyak wanita yang terlambat menikah hanya karena maharnya yang terlalu tinggi sehingga laki-laki yang hendak menikahinya harus menunggu selama bertahun-tahun agar dapat memenuhi maharnya. Alangkah kasihannya mereka yang harus menggadaikan hati padahal perkara ini amat mudah penyelesaiannya. Maka, ringankanlah maharmu, wahai saudariku!

  2. Ulama pertama ini pun mengacu pada tindakan Umar ibn Khattab. Ibn Katsir menceritakan bahwa ketika QS, al-Mumtahanah: 10 turun, Umar ibn Khattab langsung menceraikan dua isterinya yang masih kafir, yaitu Binti Abi Umayyah ibn Mughirah dari Bani Makhzum dan Ummu Kultsum binti Amr bin Jarwal dari Khuza’ah. Umar pernah hendak mencambuk orang yang menikah dengan Ahli Kitab. Umar marah karena ia khawatir tindakan beberapa orang yang menikahi perempuan-perempuan Ahli Kitab itu akan diikuti umat Islam lain, sehingga perempuan-perempuan Islam tak menjadi pilihan laki-laki Islam. Namun, kemarahan Umar tak mengubah pendirian sebagian Sahabat Nabi yang tetap menikahi perempuan Ahli Kitab. Dikisahkan, Umar pernah berkirim surat pada Khudzaifah agar yang bersangkutan menceraikan istrinya yang Ahli Kitab itu. Khudzaifah bertanya kepada Umar, ”apakah anda menyangka bahwa pernikahan dengan perempuan Ahli Kitab haram?”. Umar menjawab, ”tidak. Saya hanya khawatir”. Menurut saya, jawaban Umar ini menunjukkan bahwa ketidak-setujuan Umar itu tak didasarkan secara sungguh-sungguh pada teks al-Qur’an, melainkan pada kehati-hatian dan kewaspadaan.

  3. “Perkara paling sweet ialah ketika dua orang saling rindu, namun tidak berkomunikasi, tetapi keduanya saling mendoakan di dalam sujudnya masing-masing” Demikian ungkapan yang dikongsi. ‘Kata-kata hikmah’ yang terkini, disertai dengan ilustrasi. Lama saya berfikir, sejauh manakah seriusnya hal ini. Penting sangatkah ia untuk disentuh, atau dalam bahasa yang lebih langsung, DITEGUR. Banyak isu lain yang lebih membimbangkan. Sejauh ozon berlubang, sekritikal isu Palestin dan Syria, sehangat isu Pilihanraya Umum yang tidak bersih, hinggalah kepada kenaikan harga yang membebankan pengguna semasa. Berbaloikah untuk menjentik topik ini? Saya mencubanya di Facebook. Dari Facebook ia datang, di Facebook juga ia perlu disuarakan.

  4. Kurang lebih, demikian proses mengurus surat nikah secara umum. Di beberapa tempat mungkin ada beberapa aturan yang berbeda sedikit. Setelah proses mengurus surat selesai, simpan rapih dokumentasi surat tersebut. Percayakan kepada salah satu anggota keluarga atau teman dekat untuk berhubungan dengan penghulu di hari H. Anda sebagai pengantin tentu tak mungkin sibuk mengurusnya. Jangan lupa ingatkan kepada orang yang ditunjuk agar ia juga bertanggungjawab menyimpan buku nikah Anda usai akad nikah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: