Posted by: nia | November 14, 2012

Mama di mataku

Menjalani kehidupan di masa kanak-kanak tentu sangat menyenangkan, karena saat itu kita belum tau apa-apa urusan orang tua. Apa yang kita inginkan biasanya selalu dipenuhi, meskipun tidak semuanya bisa dikabulkan oleh ortu. Terkadang orang tua kita membiarkan anaknya menangis karena kehendak anak tidak dituruti. Namun apapun alasannya, semua itu karena orang tua ingin anaknya mengerti bahwa itu demi kebaikan mereka di masa depan.

Mengingat masa kecil saya sewaktu masih bersama orang tua, sampai sekarang hal itu begitu membekas dalam ingatan. Mama adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat perhatian dan penyabar. Sebagai seorang istri dari pegawai negeri biasa kala itu, mama saya adalah seorang manager keluarga yang hebat di mata anak-anak. Bagaimana tidak? Dengan gaji suami yg berprofesi guru kala itu, mama berhasil mengelola keuangan supaya bisa bertahan sampai bulan berikutnya. Tidak jarang, mama juga harus bekerja sambilan jika ada waktu. Namun saya yakin, sebenarnya waktu  yang digunakan  mama untuk kerja sambilan itu adalah waktu istirahat beliau.

Tugas mama sebagai seorang istri waktu itu yang selalu rutin beliau kerjakan adalah bangun pagi-pagi sekali, seusai sholat berjama’ah beliau menyiapkan sarapan Abah dan kami anak-anaknya. Lalu sarapan bersama, setelah kami semua berangkat ke sekolah, beliau lalu mencuci dan menjemur pakaian. Berberes-beres rumah dan kemudian ke pasar membeli ikan dan sayur. Pulang ke rumah lalu memasak untuk makan siang.

Pada jam pulang sekolah, kami sekeluarga makan siang bersama. Setelah lewat tengah hari, biasa Abah dan adik-adik saya akan berangkat ke sawah atau ke kebun, hingga menjelang senja. Dan mama tetap di rumah melakukan tugas ibu rumah tangga. Saya yakin, pekerjaan di rumah itu tak pernah akan selesai walaupun hingga malam hari. Seusai makan malam, terkadang mama juga langsung menyetrika pakaian kerja buat keesokan hari.

Ah, ada satu hal kecil yang sampai saat ini masih terbayang … Mama selalu membuatkan secangkir teh panas buat Abah pada pagi dan malam hari. Padahal jika kita pikir, membuat teh manis itu bisa dilakukan oleh Abah, tapi kenapa mama juga yang membuat? Jawaban itu baru saya temukan ketika saya sendiri telah mempunyai seorang suami. Betapa bahagianya hati jika sebagai istri saya bisa melakukan hal-hal kecil tapi itu menyenangkan suami. Ternyata melayani keperluan suami tanpa harus diucapkan suami itu akan memberikan kepuasan tersendiri, dan akan mendapatkan ganjaran kebaikan berlipat-lipat. So, itu hanya hal yang sangat sederhana, apalagi lebih dari itu.

Bandingkan dengan jaman sekarang, mungkin hanya sedikit istri yang selalu membuatkan secangkir teh/ kopi. Menyiapkan pakaian bersih ketika suami usai mandi. Menyiapkan sepatu suami ketika akan berangkat kerja, dan masih banyak hal lain yang tak bisa saya sebutkan satu-satu. Alasannya mungkin si istri juga adalah seorang pekerja kantoran atau bekerja di luar  rumah, atau ada anak-anak yang harus diberikan perhatian lebih, sehingga tak ada waktu untuk melakukan itu, atau bisa juga si istri merasa bahwa pekerjaan melayani suami itu bisa tidak dikerjakan karena suaminya bisa melakukan sendiri. Hal ini tidak masalah jika pasangan tidak mempermasalahkan, tetapi kembali lagi kepada kodrat seorang istri yang baik yang selalu bisa diandalkan oleh suami.

Tapi bagaimana jika suami istri yang hidupnya berjauhan, misalnya suami lagi melanjutkan pendidikan ke luar daerah, atau suami bekerja di tempat lain. Tentu istri akan berkata, “ah .. suamiku tidak ada di rumah, aku tidak bisa melayani dari hal-hal kecil.” Semua sudah ada resiko dan tentunya itu merupakan bagian dari komitmen pernikahan.

===

Saya sangat bersyukur memiliki mama yang telah memberikan contoh baik dalam berumah tangga. Beliau benar-benar menjalan tugas mulia sebagai seorang ibu yang sempurna di mata anak-anak. Meski mama hanya ibu rumah tangga biasa, tapi saya bangga menjadi anak beliau. Di era yang serba terbalik ini, contoh teladan seorang mama tentu menjadi fondasi yang kuat untuk anak-anaknya kelak. Didikan orang tua di masa kecil akan menentukan kebaikan seorang anak di masa depan.

Keutuhan rumah tangga akan tetap terjaga bila seorang istri dan suami mengerti posisinya, dan tugas  mulia seorang istri itu adalah mengurus rumah dengan sebaik-baiknya, sehingga suami merasa bahwa dia benar-benar dapat perhatian dari istri. Jika sudah saling perhatian, tentu apapun kendala dalam berumah tangga, semua akan bisa dilewati bersama.

Sepatutnya kita mengucapkan rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan anugerah kepada kita,  memberi kesempatan untuk kita menjadi seorang istri yang insya Allah sholehah. Karena dalam sebuah rumah tangga, ada banyak kebaikan yang bisa kita lakukan untuk bekal di kehidupan akhirat nanti. Semoga dengan ridhonya suami kepada kita, Allah pun akan memberikan ridho kepada kita. Aamiin…

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: