Posted by: nia | November 7, 2012

Peliknya PLIK

Tahun 2012 bisa dikatakan sebagai tahun kelanjutan gencar-gencarnya sosialisasi Teknologi Informasi dan Komunikasi,  khususnya di Banjarbaru. Walaupun beberapa tahun sebelumnya gerakan semacam ini sudah dirintis oleh sebuah komunitas blogger Kayuh Baimbai, yang didirikan tanggal 20 Januari 2008 silam. Kenapa dikatakan kelanjutan? Karena sebelumnya hal ini tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah setempat, terutama olehdinas yang terkait. Dan setelah ada program Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam bentuk layanan M-PLIK ( Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan), barulah terlihat sinergi antara pemerintah dengan komunitas blogger tersebut.

MPLIK sendiri adalah merupakan sebuah Pusat Layanan Internet untuk Kecamatan yang bersifat bergerak/ mobile. MPLIK dibangun untuk memenuhi Kewajiban Pelayanan Universal, bisa dikatakan sebagai sebuah Warnet Keliling untuk kecamatan yang ditunjuk. Perangkat dan jasa layanan ini merupakan perwujudan program dari dinas kominfo,  berupa paket yang terdiri VSAT (Very Small Aperture Terminal), Notebook 6, 1 server, switch, UPS, kursi, dan meja.

VSAT adalah teknologi komunikasi satelit yang memungkinkan seluruh tempat untuk mendapatkan akses internet  tanpa kecuali.  VSAT ini  menyediakan banwidth 256 Kbps, yang akan dibagi oleh server menjadi  CPU, di sekitar CPU masing-masing mendapatkan 51 Kbps. Untuk bandwidth yang hanya 51 Kbps ini menyebabkan  lambannya kecepatan koneksi internet. Sehingga  MPLIK menjadi tidak optimal , pada akhirnya sepi dari user/ pengguna.

Pada acara Sosialisasi Optimalisasi PLIK yang dilaksanakan Dishubkominfo Banjarbaru bekerjasama PT. Talenta Cipta Sarana (9/8/2012). Yang berlanjut menjadi sebuah Diskusi  terungkap bahwa Banjarbaru sebenarnya tidak memerlukan fasilitas PLIK & MPLIK, mengingat Banjarbaru sebagai kota dengan kondisi masyarakat yang sudah familiar dengan internet. Ada kesan PLIK dan MPLIK “dipaksakan.”

Namun hal tersebut  ditanggapi oleh Faisal Kasim ( Kepala Bidang Kominfo Banjarbaru) bahwa masih banyak wilayah di Banjarbaru yang belum bisa mengakses internet dengan baik. Hal itu juga disampaikan oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru bahwa banyak sekolah di Banjarbaru berada di pelosok dan mereka belum menyentuh dengan baik keberadaan internet.

Atas dasar itulah Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan KB Kota Banjarbaru, Agus Widjaja memberikan tanggapan serius, PLIK atau MPLIK akan optimal apabila pihak pengelola membuat perencanaan matang dengan melihat kondisi Kota Banjarbaru. “Operasional PLIK dan MPLIK harus direncanakan dengan matang. Dengan cara itu kita bisa mengetahui bagian apa saja yang sudah tercapai. Apalagi pelaksanaannya bisa bekerjasama dengan kawan-kawan komunitas penggiat IT semacam blogger dan Relawan TIK, maka optimalisasi PLIK bisa cepat berjalan,” ungkap Agus. “Jika permasalahan pada bandwidth, sebaiknya tidak selalu bergantung ke pemerintah pusat tapi Pemko Banjarbaru bisa mengupayakannya sendiri. Kalau memang Banjarbaru dianggap tidak layak mendapatkan fasilitas PLIK dan MPLIK, itu tinggal melihat kondisi di lapangan. Jika sektor pendidikan lebih membutuhkan, sebaiknya MPLIK diarahkan ke sektor tersebut agar terasa manfaatnya,” lanjut Agus memberikan solusi. (dikutip dari  kkb.org).

===

Melihat kondisi di atas, ada  hal yang menjadi pertanyaan saya :

1. Jumlah unit  MPLIK yang tersedia

Di Banjarbaru yang terdiri dari 5 kecamatan, masing–masing kecamatan tentunya mendapatkan 1 unit. Namun dalam hal ini, pengelolaan dan tanggung jawab serta pengawasannya masih belum jelas. Apalagi jika mendengar kabar bahwa tidak semua unit dalam kondisi siap pakai. Jika seperti itu keadaannya apakah unit tersebut  bisa  difungsikan secara optimal terhadap masyarakat?

2.SDM dari dinas terkait.

Ketika mobil MPLIK beroperasi melayani masyakarat. Apakah telah didampingi  oleh petugas yang prima dalam memberikan pelayanan, sehingga jika ada kendala di lapangan, petugas tersebut bisa secara sigap memberikan solusi. Jangan sampai ada SDM yang tak terlatih/ terdidik menjadi faktor penghambat dari program yang dilaksanakan ini.

3.Biaya operasional

Tak dapat dipungkiri, saat melakukan sebuah kegiatan menggunakan unit MPLIK, biaya operasional mau tak mau harus diperhitungkan, semisal pasokan listrik berdaya besar. Beberapa waktu yang lalu, ketika MPLIK masuk ke sebuah sekolah kejuruan di kota Banjarbaru, ternyata pasokan listrik di sekolah itu tak mampu mensupport saat MPLIK beroperasi, sehingga dengan terpaksa MPLIK masuk SMK harus terhenti. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang menanggung biaya operasional macam ini?

===

Terlepas dari berbagai kendala dan persoalan tersebut, saya pribadi sebagai masyarakat awam, yang kebetulan juga menjadi seorang blogger, merasakan betapa ada perbedaan saat suatu program dijalankan dengan kerjasama berbagai pihak, dari pada bergerak masing-masing. Misalnya untuk TIK sendiri, jika hanya komunitas blogger saja yang bergerak tanpa adanya dukungan pemerintah. Rasanya tidak akan maksimal, begitu juga sebaliknya, jika hanya mengandalkan pemerintah semata tanpa support dari berbagai komunitas, realiasinya di lapangan tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Andai kata pada tahun 2008 silam, program ini sudah bergulir di kala komunitas blogger KKB sedang terseok-seok dalam perjalanan berkomunitasnya, mungkin tak sebegini kompak dan rukunnya para anggota KKB dalam misinya ikut mencerdaskan masyarakat lewat dunia blogging. Andai kata tahun 2008 KKB belum lahir, mungkin keberadaan MPLIK di Banjarbaru saat ini tidaklah secerah langit yang penuh bintang.

Saya sempat mendengar dengan jelas ketika berkesempatan mengikuti acara buka puasa bersama para Relawan TIK dan ICT Watch bulan Agustus kemarin, bahwa Kalimantan Selatan ternyata menjadi salah satu daerah yang paling maju dalam hal TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

Lalu, seberapa bangga dan senangnya kita menyandang predikat seperti itu? Sementara kenyataannya di lapanngan belumlah merata. Lagi-lagi saya tertegun, jika hanya ada satu atau dua pihak saja yang menginginkan pemerataan Teknologi Informasi dan Komunikasi di kota tercinta ini, tentunya sangat mustahil.

Ketersediaan unit  sudah ada, SDM bisa dibilang oke. Senergi pemerintah dan berbagai komunitas telah terjalin dengan baik. Namun bagaimana pergerakannya di lapangan? Dari pembicaraan yang ngalor ngidul, kita para blogger sempat berpikir, “ah seandainya satu unit MPLIK dipercayakan kepada komunitas untuk membantu sosialiasi di lapangan, menjangkau desa terpencil yang masih awam dengan internet. Melakukan sosialisasi ke masyarakatnya pada saat-saat tertentu.  Tentunya program TIK akan menjadi lebih efektif dan tugas kominfo menjadi lebih ringan. Pertanyaannya adalah, apakah itu mungkin?

Maka, bersamaan dengan momentum ICT USO Expo 2012 di Banjarmasin 7 – 9 November 2012 di gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin, teriring doa dan harapan, semoga kita sebagai komuntas blogger di Kalimantan Selatan, terutama yang berdomisili di Banjarbaru bisa ikut berpartisipasi maksimal demi terciptanya pemerataan dalam dunia telekomunikasi. Sebagaimana tujuan pemerintah mengadakan  ICT USO Expo 2012 yakni mengkampanyekan Peningkatan Partisipasi KPU/USO sebagai inisiatif pemerintah kepada pihak-pihak terkait untuk mempromosikan produk dan program mereka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: