Posted by: nia | October 10, 2011

Kisah Penjual Buah

Pagi tadi, saya berangkat kerja lebih awal dari biasanya sehingga jalanan belum begitu ramai dan belum terlalu padat. Saya pun menikmati perjalanan pagi ini dengan riang hati. Berhubung lebih pagi berangkatnya, otomatis saya lebih dulu tiba di sebuah pasar pagi dadakan daripada penjual buah langganan saya.

Celingak-celinguk menunggu bapak penjual buah langganan saya, dan belum terlihat tanda-tanda beliau akan muncul. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buah di penjual yang lain. Mula-mula saya tanya harga,wah .. ternyata harganya lumayan beda dari harga di tempat biasanya membeli. Namun melihat kondisi buah yang tergolong bagus, saya kemudian membelinya.Tak berapa lama, datanglah penjual buah langganan saya. Saya pun menunggu beliau menggelar dagangan buahnya. Membeli jenis buah yang lain dari yang sudah saya beli sebelumnya tadi.

Saya berlangganan buah ± 10 bulan yang lalu, ketika baru-baru pindah ke Banjarbaru, karena setiap hari kerja saya lewat pasar pagi dadakan itu. Dulu ketika di Banjarmasin, saya juga punya pedagang buah langganan seorang ibu yang berjualan di depan komplek.

Pedagang buah itu termasuk ramah dalam melayani pembeli, tidak pelit dan terkadang mau mengurangi harga jika pembelinya tidak cerewet. Karena itulah saya suka membeli buah-buah dagangan beliau. Beliau juga memberi jaminan kalau buah yang dijual punya kwalitas yang bagus, sehingga pembeli merasa puas.

===
Ngomong-ngomong soal pedagang, saya sering kali menemui pedagang yang ingin mendapatkan banyak untung dengan menjual dagangan dengan menghalalkan cara, tak perduli itu barang bagus atau tidak, cukup atau tidak timbangan/ takarannya. yang penting banyak laku dan banyak untung. Padahal kalau mereka ingat peringatan Allah tentang mereka yang mengurangi timbangan/ takaran, tentulah mereka akan menjauhi hal yang demikian. Dan mereka pasti akan memilih untuk jujur dalam berdagang.

Jangan kamu makan hak sesamu dengan jalan tidak halal (curang)”, Jangan kamu mengurangi takaran (timbangan) kepada orang lain.” Jangan kamu berikan sesuatu (barang) yang tidak baik kepada orang lain, sedangkan kamu sendiri tidak mau.” Jangan kamu hidup boros (berpoya-poya) karena itu merupakan sifatnya setan.”

===

Kisah dari seorang penjual buah itu, sesungguhnya banyak hal yang bisa saya ambil hikmahnya. Semoga saja kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tidak merugi, amin.


Responses

  1. Hehe, mbaca ini saya jadi ingat acara “Sunnah Rasul” beberapa hari yg lalu. Membahas mengenai penjual buah yang baik, dan yang buruk.:mrgreen:

  2. Korupsi makin merajarela. Bukan cuma pemerintah, tapi sampai pedagang2 kelas kecil….

  3. dan saya juga punya langganan buah….
    seperti biasaa….”cil nukar pisang 2 ribu”
    hhehe, cukup 2ribu saya sudah dpat pisang. (eits…jumlah pisangnya dirahasiakan)

  4. Salam kenal dengan orang Kandangan nah. Tulisannya bagus….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: