Posted by: nia | October 8, 2011

Juz Amma dan seorang cucu

Kamis malam kemarin, saya bersama lelaki ini pergi ke toko buku untuk membeli sesuatu. Sesampainya di sana ternyata yang kami cari ga ada, daripada pulang ga bawa apa-apa akhirnya saya memutuskan untuk membeli sebuah Juz Amma yang waktu zaman saya masih SD dulu 80% isinya saya hapal. Seiring berjalanannya waktu, dan memory otak saya dipenuhi oleh berbagai macama hal, sekarang saya justru hanya hapal 50% isi Juz Amma itu, menyedihkan memang. Untuk mengobati kesedihan saya itulah makanya saya bertekad untuk kembali menghapal dan mengamalkan isi buku itu dari sekarang, Insya Allah.

Sepulangnya dari toko buku, kami berkunjung ke rumah kawan yang kebetulan tidak jauh dari situ. Sambil bercerita banyak hal termasuk tentang komunitas blogger kalsel menuju blogger nusantara di Sidoarjo akhir bulan mendatang, kami disuguhi minuman kesukaan lelaki yang bersama saya tadi oleh ibu dari anak kawan yang kami datangi.

Iseng-iseng saya mengeluarkan JUz Amma yang saya beli tadi, karena istri kawan saya juga lagi asik baca sebuah buku cerpen yang judulnya bikin penasaran (judulnya ga saya sebutin ya), bahkan kalau ga memiliki komitmen yang kuat terhadap sebuah hubungan bisa jadi salah satu dari pasangan itu akan mencoba-coba mempraktikkan isi cerpen … ckckckckckck.

Saat semuanya senang asik dengan aktifitas masing-masing, tiba-tiba omm bon bon ( nama panggilan untuk kawan yang bersama saya ) bercerita sedikit tentang seorang anak kecil yang diajari oleh gurunya tentang Juz Amma itu. Jadi ceritanya begini :

“Kakek dari anak kecil itu akan melaksanakan sholat fardhu sendirian di rumahnya, ketika itu si cucu ingin ikut dan berteriak, “kek, ikut!”

Kakek itu pun kemudian menjadi imam, ketika selesai membaca Al Fatihah diiringi dengan mengucapkan “amin”, si cucu langsung menyahut, “Artinya … bla.. blaaa … blaaaa ( sampai ia selesai membaca arti dari surat Al-Fatihah tersebut”. Begitulah yang terjadi tiap raka’atnya sampai salam.

===
Kami yang mendengarkan cerita itu otomatis langsung tergelak, ternyata anak kecil itu begitu polosnya. Tiap kali mendengarkan surat-surat pendek yang sedang dibacakan, ia langsung membacakan terjemahannya. Lalu bagaimana dengan kita yang sudah dewasa ini, masih hapalkah terjemahan dari tiap surat-surat pendek tersebut?šŸ™‚


Responses

  1. Masya Allah… saya diingatkan oleh kisah ini.šŸ˜„

    ====
    semoga bermanfaat yaaa ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: