Posted by: nia | September 28, 2011

Sebaiknya Teliti

Hari minggu kemarin saya ikut acara kopdar komunitas blogger Kalsel Kayuh Baimbai di rumah salah seorang anggota komunitas, jaraknya dari kota Banjarmasin ± 18 km, tapi berhubung saat itu kami berangkatnya rombongan dari Banjarbaru, maka jarak tempuh menjadi lebih jauh ± 50 km.

Sebelum sampai di lokasi, kami singgah sebentar membeli sedikit bumbu untuk bakar ikan di sebuah warung. Tidak semua yang saya cari ada di warung itu. Ketika membayar belanjaan, sungguh saya tidak menghitung uang kembaliannya. Kami kembali meneruskan perjalanan.

Ketika acara bakar-bakaran selesai,dan kopdar juga bubar dengan hasil yang menggembirakan. Kami semua kembali ke rumah masing-masing. Hingga saat itu saya sama sekali masih tidak memperhatikan uang kembalian dari belanja tadi.

Keesokan harinya, saya baru berpikir ketika melihat beberapa lembar uang puluhan ribu dan selembar uang ribuan sisa kembalian kemarin. Saya cross check jumlah belanjaan saya dengan uang kembaliannya, Astaghfirullah … uang kembaliannya kok lebihan ya? Kasihan yang punya warung😦

Tadi malam kejadian yang sama terulang lagi, namun bukan di warung itu melainkan di pasar. Total belanjaan saya Rp 24.500,- sebenarnya. Saya menyerahkan uang senilai Rp 25.000, karena tidak ada uang kembaliannya maka ibu penjual itu bilang “Mbak, gantinya bumbu ini saja ya ( sambil menunjuk sebungkus bumbu dapur)”.

“Yang ini saja, Bu ( kata saya sambil menunjuk satu sachet pewangi pakaian)”.

Ibu itu kemudian mengambil pewangi pakaian yang saya tunjuk, dan langsung memasukkan ke dalam kantong kresek tempat wadah belanjaan saya tadi. Sungguh, kali ini pun saya tidak memperhatikan belanjaan yang sudah saya beli tadi, dan saya langsung pulang setelah akad jual beli dan mengucapkan terimakasih.

Sesampainya di rumah saya kembali terkejut, loh … kenapa saya tadi tidak teliti dengan belanjaan saat di pasar! Ternyata pewangi yang saya kira 1 sachet malah jadi selusin.

2 kejadian ini membuat saya sadar, biasanya kalau diberi lebih manusia akan diam. Namun jika diberi kurang, manusia acap kali menggerutu. Tetapi untuk saya pribadi, apa yang terjadi itu sesungguhnya adalah ujian. Meski harga dari beberapa item barang itu tidak seberapa, namun itu bukan hak saya. Semoga Allah memberikan saya rejeki yang halal dan penuh berkah, sebagai gantinya Insya Allah harga belanja barang yang kelebihan itu akan saya sumbangkan, mudah-mudahan si penjual itu mendapatkan rejeki yang penuh berkah juga, amin.


Responses

  1. Wah kalo saya baru nyadar kelebihan saat di rumah, saya sebisa mungkin mengembalikannya sesegera mungkin. Kasihan si penjual.😦

    Tapi untung saya jarang mengalami hal seperti itu. Saya biasa menghitung dulu uang sebelum masuk ke dalam dompet.:mrgreen:

  2. jadi gembira mendengarnya….sumbangkan ke celengan masjid aja mbak nia…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: