Posted by: nia | August 27, 2011

Pak Burhan, Seandainya Bapak Masih Ada

Rumah beratap daun rumbia, dindingnya hanya papan yang susun sirih. Tak ada kamar untuk buang air kecil apalagi kamar mandi. Hanya dapur yang terdiri dari atang-atang, yang di satu sudut dijadikan tempat untuk cuci piring dan kegiatan dapur lainnya. Di dinding dapur itu bergelantungan perkakas masak seperti panci dan wajan yang berwarna hitam legam yang kalau tidak hati-hati saat menyentuhnya akan berakibat tangan penuh corengan arang, panci dan wajan itu sudah terlalu sering ditaruh di atas tunggu untuk keperluan memasak.


===

“Arman, kamu sudah menyelesaikan sekolah kejuruanmu. Tanggung jawab bapak untuk memberimu nafkah sudah cukup. Sudah waktunya kamu pergi meninggalkan rumah dan kampung ini untuk mencari kehidupan sendiri, dan jangan kembali sebelum berhasil!” kata Pak Burhan dengan intonasi yang tinggi.

Siang itu semua keluarga dikumpulkan oleh Pak Burhan, beliau ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Pak Burhan adalah sosok laki-laki yang tegas dengan sorot mata tajam, bibir tipis dan berhidung mancung.Kulitnya yang cokelat kehitaman akibat terbakar sinar matahari secara terus menerus. Jika diperhatikan secara seksama, wajah beliau terlihat tetap ganteng di usia yang 38 tahun. Karena ketegasan itulah beliau menjadi disegani oleh orang kampung maupun anak murid di sekolah.

Pekerjaan tetap Pak Burhan adalah pegawai negeri, menjadi seorang guru kelas sekolah dasar di daerah terpencil. Untuk sampai ke sekolah itu beliau harus mengayuh sepeda ontelnya dengan jarak 14 km. Keadaan jalan yang berbatu dan sempit, penuh lobang membuat perjalanan harus berhati-hati. Jika tidak ingin terlambat sampai ke sekolah, Pak Burhan harus berangkat pagi-pagi sekali.

Untuk status pegawai negeri di kampung itu sebenarnya hanya dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, apalagi sudah bisa ditebak penghasilan dari seorang guru SD. Tidak ada yang memilih berprofesi sebagai guru, berbeda dengan Pak Burhan yang kebetulan hanyalah pendatang di kampung tersebut.

Pak Burhan sendiri menyadari bahwa gajinya yang kecil itu tentu tidak cukup untuk menghidupi keluarga besarnya, seorang istri dengan enam orang anak ditambah adik perempuannya yang bungsu. Jadi ada sembilan orang yang harus dibiayai, apalagi ke enam orang anaknya semua bersekolah. Ada yang masih Taman Kanak-Kanak hingga sekolah menengah atas, sedangkan adik perempuannya baru masuk kuliah semester pertama.

Banyak orang yang mencibir dan menganggap Pak Burhan terlalu berani mengambil resiko dengan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke tingkat atas, tak terkecuali adik perempuannya yang kuliah itu. Padahal untuk kehidupan di kampung itu, lulus sekolah tingkat pertama saja sudah hebat.

Namun Pak Burhan tak mau mendengarkan cibiran mereka, bersama dengan istri dan anak-anaknya mereka terus menjalani hidup. Gaji yang diterimanya setiap bulan digunakan untuk keperluan sekolah anak-anak, sedangkan untuk hidup sehari-hari Pak Burhan bekerja sampingan sebagai seorang petani.

Setiap pulang sekolah, selepas dzuhur beliau mengajak anak-anak dan adiknya ke sawah. Jika musim bercocok tanam mereka akan bersama-sama menanam padi, begitu juga ketika musim panen telah tiba. Di sela-sela menunggu panen, Pak Burhan rajin menanam sayuran di kebun. Jika sayuran itu bisa dipetik, tak jarang hasilnya dibagikan kepada warga di sekitar kebun.

===

Arman, anak sulungnya yang baru kembali dari kota setelah tiga tahun sekolah kejuruan negeri jurusan teknik pengerjaan logam hanya terpana mendengar kata-kata bapaknya barusan. Ia tak bisa menjawab, ada keterkejutan di wajahnya.

Melihat reaksi anaknya seperti itu, Pak Burhan kembali mengulangi kata-katanya. Hingga Arman pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa tersinggung dengan perkataan Pak Burhan, ayah kandungnya sendiri. “Kenapa beliau tega mengusirku,” keluh Arman membatin. Akhirnya Arman tidak tahan dengan keadaan seperti itu, ia pun kabur dari rumah tanpa pamit.

Ibu Burhan menangis melihat perlakuan suaminya terhadap Arman, bukankah Arman anak sulung mereka yang juga berhak tinggal bersama di kampung, pikirnya. Namun sebagai istri ia tak berani melawan terhadap suami. Dalam hati Ibu Burhan percaya bahwa apa yang dilakukan suaminya itu pasti telah dipikirkan secara matang.

Waktu berlalu, roda kehidupan terus berputar. Anak-anak Pak Burhan sudah duduk di bangku SLTP, yang bungsu duduk di kelas empat SD. Kebersamaan yang mereka lalui sungguh memberikan kesan yang mendalam di hati anak-anaknya. Walau terkadang ada kerinduan terhadap kakak sulung mereka yang belum kembali.

===
Di kota, Arman berusaha mencari pekerjaaan. Uang yang diberikan oleh ibunya sudah hampir habis. Ia pun bertekad harus dapat pekerjaan secepatnya. Dan usahanya tidak sia-sia, ketika itu ia datang ke sebuah bengkel las. Mencoba untuk meminta pekerjaan, akhirnya Arman tidak menganggur lagi. Ya meskipun gaji yang diterimanya hanya pas untuk hidupnya, padahal Arman adalah seorang perokok aktif.

Arman kemudian memberikan kabar bahagia itu kepada ibu dan bapaknya di kampung, tak terperikan suka citanya Pak Burhan mendengar kabar dari anak sulungnya itu. Ia merasa menjadi orang tua yang berhasil mendidik anak hingga bisa mandiri.

( bersambung )



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: