Posted by: nia | August 26, 2011

Bunga Merak dalam Impian dan Kenyataan

Hembusan angin kemarau menerpa lembut kuntum-kuntum bunga merak berwarna jingga kemerahan, detik demi detik berlalu hingga bunga-bunga itu telah berserakan di permukaan jalan beraspal. Ya … pohon merak ini sudah berusia puluhan tahun. Batang pohonnya kokoh berdiri di tepi jalan raya, hijau daun diselimuti oleh bunga-bunga yang mekar di musim kemarau, bertebaran dan menari-nari terbawa angin.

===
Pagi yang dingin menghantarkan kabut tebal menyesakkan napas, bening bola mata terpaksa merasakan perih ketika kabut yang hadir akibat banyaknya kebakaran hutan dengan tanpa ampun terus saja bergulung-gulung membias di sela sinar mentari pagi.

Ini adalah pagi ke-26 bulan suci Ramadhan, hari-hari terakhir sebelum 1 Syawal, Anindita memacu motornya dengan kecepatan sedang, meski dalam hatinya sedikit berkecamuk sebuah keinginan yang belum bisa ia ungkapkan kepada siapa pun, masih saja ia berusaha untuk tetap konsenstrasi saat mengendara. Rasanya ia harus lebih hati-hati jika tidak ingin kejadian di awal Ramadhan kemarin akan terulang lagi.

===

Suatu malam seusai tarawihan di langgar, ketika asik ngobrol dengan Ifan. Tiba-tiba lelaki berjanggut tipis dengan rambut hitam bergelombang dan lesung pipi yang menambah ganteng wajahnya memberikan sebuah pertanyaan kepada gadis teman ngobrolnya yang bernama Anindita Puspa Teratai, Dita (nama panggilan gadis itu) sedang duduk manis sambil sesekali menatap penuh cinta kepada lelaki di hadapannya.

“Besok Ade masuk kembur gak?” tanya Ifan.

“Insya Allah, Kak, kenapa?” balas Dita sambil membetulkan jilbab lebar berwarna hitam yang bertengger di kepalanya, balutan jilbab itu menutupi rambut panjang dan tebal yang sudah dirawatnya sejak puluhan tahun lalu. Ia ingat dengan kata-kata ayah bahwa sedapat mungkin Dita harus berambut panjang, selain sebagai mahkota wanita. Panjang rambut itu juga bisa mengajarkan sebuah kesabaran dalam merawatnya.

“Kakak sedang bingung, apakah besok mau ke Banjarmasin atau tidak”, ungkap Ifan lagi.

“Loh, ada keperluan apa ke Banjarmasin, Kak?”

“Mau beli beberapa buah komponen eletronika untuk mengganti komponen LCD monitor yang rusak”.

“Titip sama Ade saja, Kak”, tawar Dita.

Akhirnya mereka berdua sepakat bahwa besok Dita saja yang ke Banjarmasin .

===

Pagi harinya sesudah sholat subuh. Jam baru menunjukkan pukul enam, tak biasanya Dita menelpon Ifan. Namun entah kenapa pagi itu ia melakukannya.

“Assalamu’alaikum, Kak. Nanti jam tujuh saya berangkat,” ucap Dita ketika telah tersambung ke nomor Ifan.

“Wa’alaikum salam, iya … hati-hati di jalan ya De!”

Percakapan singkat berakhir  dan Dita segera bersiap-siap, tak berapa lama Dita berangkat dengan mengendarai motor seperti biasa, ah .. tidak biasa sih. Pagi itu ia lebih banyak melamun, sering kali rasa kaget menyergap ketika tiba-tiba ada pengguna jalan yang lain membalapnya.

Ketika berada di bundaran antara Banjarbaru- Banjarmasin, dengan tak terduga seorang anak laki-laki bersepeda, berusia sekitar 8 tahun menyebrang jalan tanpa menoleh ke kanan ataupun ke kiri, dan braaaaaaaaaaakkk!! Tak bisa lagi Dita mengelak dari sepeda yang ditunggangi anak kecil itu.

Motor Dita menyambar sepeda mini milik anak malang itu, anak itu terjatuh bersama sepedanya. Sedangkan Dita tak mengalami apapun, namun hati kecilnya langsung mengomando otak di kepalanya agar segera berhenti dan mendekati anak lelaki tadi.
Alhamdulillah, hanya sedikit lecet di siku kiri anak itu ketika terjatuh ke aspal tadi. Sedangkan sepedanya lumayan mengalami kerusakan.

Dan Dita pun segera menelpon ke Ifan, ternyata tak lama sebelum kejadian itu Ifan telah lebih dulu berkirim sms, menanyakan sudah sampai atau belum karena Dita belum juga memberikan kabar padahal tadi pamit ketika berangkat.  Namun karena ponsel tersimpan dalam ranselnya, hingga Dita tidak mengetahui. Akhirnya Dita langsung bercerita bahwa ia baru saja mengalami musibah. Ifan langsung meluncur ke TKP, menemani Dita untuk membawakan sepeda yang rusak.  Gadis itu bersyukur kepada Allah, bahwa sampai detik itu ia masih dilindungi oleh-Nya, begitu juga si anak lelaki tadi. Tak lupa Dita berterima kasih kepada orang-orang yang telah menolongnya ketika Ifan belum sampai di TKP.

Bertiga mereka mencari bengkel sepeda terdekat untuk memperbaiki sepeda anak kecil itu, dalam hati Anindita ingin menangis saking terharunya, lelaki yang menjadi kekasihnya ini benar-benar telah membuat hatinya jatuh cinta. Jatuh cinta bukan karena fisik semata, tapi ketulusan dan tanggung jawab yang telah ia tunjukkan. Bukan hanya kali ini, tapi setiap kali ada masalah, selalu Ifan lah yang memberikan bantuan tanpa diminta sekali pun.

Batin Dita berbisik, semoga lelaki berjanggut tipis dan berlesung pipi ini memang ditakdirkan menjadi jodohnya seperti keinginan mereka berdua. Ingin sekali ia menjadi pendamping Ifan sampai maut memisahkan, seperti lirik-lirik lagu romantis yang dulu sering banget Dita dengarkan.

“De, ternyata firasat kakak tadi malam kejadian pagi ini,” celetuk Ifan di sela-sela menunggu waktu memperbaiki sepeda si anak kecil.

“Maksud kakak apa?”, tanya Dita mengernyitkan alis tebalnya.

“Tadi malam kakak merasa ragu banget untuk berangkat ke Banjarmasin, ternyata pagi ini Ade yang mengalami”, lanjut Ifan lagi.

“Oh, padahal tadi pas kakak kirim sms. Waktunya bersamaan dengan kejadian itu, nih coba kakak liat jamnya, mungkin kontak batin kali ya, Kak?” sahut Dita membalas tatapan Ifan, sambil tangannya membuka inbox ponselnya. Ada kesejukan merasuk dalam hatinya ketika tatapan mereka beradu.

===

Sejak kejadian di suatu pagi Ramadhan tersebut, gadis yang selalu menggunakan jilbab itu menjadi lebih berhati-hati setiap berkenderaan, ia selalu berusaha untuk konsentrasi. Begitu juga dengan pagi ini.

Meski pandangannya sempat terusik dengan keindahan bunga merak yang berserakan di tepi jalan raya, meski di dadanya sedang bergejolak sebuah keinginan yang belum jua sempat tersampaikan, ia tidak ingin mengalami musibah lagi di jalan raya akibat kelalaiannya sendiri.

40 menit mengendarai motor, Dita sampai juga di tempat kerjanya. Kepagian memang, namun kali ini ia memang sengaja berniat untuk segera berada di kantor. Ia mempunyai banyak waktu  bercengkrama dalam dunia khayalan tentang kembang merak yang berwarna jingga kemerahan. Tentang rasa syukur ketika ia ditemukan dengan sosok lelaki seperti Ifan. Tentang keinginannya mengadakan resepsi sederhana ketika pernikahannya digelar kelak. Tentang lembaran baru kehidupan yang berlandasan cinta dan kasih sayang. Tentang rumah tangga islami… sungguh damai rasanya berada di dunia khayalan seperti pagi ini.


Responses

  1. Itu bukan khayalan… siapa tahu bisa terjadi beneran.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: