Posted by: nia | June 14, 2011

Antara Tanjung- Amuntai

Barangkali diantara kita pernah atau sering bepergian dengan jarak yang cukup jauh, entah itu dengan mengendarai roda dua maupun roda empat. Dalam hal ini keselamatan selama berkendara menjadi prioritas utama, selamat untuk diri sendiri juga untuk pengguna jalan yang lain.

Sekitar 3 minggu yang lalu ( 20 Mei 2011), saya berkesempatan pergi ke daerah dalam rangka tugas kantor, awalnya saya diberi pilihan untuk nyari tempat tinggal sementara selama di sana, namun pada akhirnya saya lebih memilih untuk berangkat pagi dan pulang sore ke rumah orang tua saya di kampung.

Daerah tempat saya berdinas sementara itu bernama kota Tanjung Tabalong, sebuah kabupaten yang berjarak ± 240 km dari kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Kota Tanjung ini terkenal dengan madu asli yang dihasilkan oleh lebah-lebah berkualitas, saya pernah mendengar bahwa peternak lebah ini adalah salah satu mitra binaan PT Adaro, sebuah perusahaan pertambangan di Tanjung. Selain terkenal dengan madu asli, daerah ini juga penghasil tambang batu bara, banyak perusahaan emas hitam di sini, ada juga tambang minyak milik PT Pertamina di daerah Murung PUdak. Mungkin lain kali ini bisa dibahas lebih detail.

Adapun nama kampung halaman saya adalah Alabio, berada di kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara yang disingkat dengan HSU. Ibukota kabupaten HSU ini adalah Amuntai yang berjarak ± 42 km dari kota Tanjung. Alabio sendiri berjarak ± 8 km dari Amuntai arah ke Banjarmasin.

Singkat cerita, karena jarak antara Alabio dengan Tanjung ± 50 km, akhirnya saya memutuskan untuk PP saja selama mengerjakan tugas kantor. Saya anggap sama seperti ketika saya berangkat dari Banjarbaru ke Banjarmasin.

Jum’at sore saya berangkat ke Tanjung dengan mengendarai roda dua, setelah sampai di Pantai Hambawang ( ± 160 km ) dari Banjarmasin, saya bingung memilih jalan untuk sampai di Tanjung. Karena kalau dari Pantai Hambawang bisa melewati Barabai untuk melanjutkan ke Tanjung, bisa juga belok ke Amuntai dulu untuk melanjutkan ke Tanjung. Jaraknya tidak beda jauh.

Akhirnya saya memutuskan untuk lewat kota Barabai ( ibukota kabupaten Hulu Sungai Tengah). Kalau melewati Barabai, saya harus melewati Paringin ( Kabupaten Balangan), barulah saya menginjakkan kaki di Tanjung Tabalong. Jaraknya ± 60 km dari Barabai. Keadaan jalan provinsi ini relatif nyaman, hanya saja tanjakan demi tanjakan yang selalu kita jumpai cukup tinggi, sehingga kita harus berhati-hati saat berkendara. Sampai lah saya di Tanjung Tabalong …

Keesokan harinya, saat pulang menuju ke Alabio, saya memutuskan untuk melewati jalan arah ke Amuntai,  keadaan jalan ini berbeda dengan jalan pertama yang saya lalui. Jika sebelumnya penuh dengan tanjakan, maka kali ini penuh dengan belokan dan tikungan tajam. Jika sebelumnya jalannya lebar, maka kali ini jalannya agak sempit, kalau pun lebar hanya ± 5 meter.

Hari itu Sabtu sore, setelah melewati 2 buah jembatan … ± 5 km dari kantor saya, ada sebuah jembatan tanpa pagar berada di tikungan tajam dengan lebar jembatan ± 4 meter. Beberapa saat sebelumnya, dari arah berlawanan sebuah mobil carry melaju dengan kecepatan tinggi, karena  si pengemudi tidak bisa mengusai keseimbangan mobil, akhirnya mobil tadi meluncur bebas lurus dari jembatan yang harusnya menikung kalau ingin selamat. Beruntung saat itu mobil tersangkut di pipa PDAM yang ada di samping jembatan, sehingga tidak langsung terjatuh ke sungai di bawah jembatan. Kecelakaan tunggal terjadi. Saat itu belum ada polisi yang datang ke tempat kejadian.

Dari keterangan warga setempat, kejadian itu sering terjadi … namun belum ada upaya untuk membuat pagar pembatas untuk meminimalisasi kecelakaan seperti yang saya lihat itu. Padahal jalan ini menghubungkan 2 kabupaten loh ..:mrgreen:

Seminggu berikutnya, Jum’at sore ketika saya pulang kerja. Di jembatan yang sama terjadi lagi kecelakaan tunggal, sebuah mobil Suzuki APV meluncur bebas ke semak belukar di bawah jembatan itu. Berhubung saat itu sudah banyak orang yang menonton tragedi itu, dan terlihat ada beberapa orang polisi, saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan hati yang miris dan tubuh masih agak gemetaran akibat melihat mobil yang berada di semak.

Terlepas dari dua kejadian yang saya temui selama berada di Tanjung, dan mungkin ada kejadian-kejadian lain. Sudah semestinya kita harus berhati-hati selama di perjalanan, kalau memang belum ada upaya dari pihak berwenang untuk membuat keadaan lebih aman, minimal ada rambu yang mengingatkan pengguna jalan tentang kondisi rawan seperti itu. Maklumlah tikungan tajam akan sering kita jumpai di sana, juga sempitnya jalan sehingga jika ada 2 buah kenderaan yang berlawanan arah, satunya harus mengalah lebih dulu..
Belum lagi ada beberapa titik lokasi tanah longsor, semoga saja dengan kehati-hatian kita semua akan terhindar dari gangguan selama perjalanan, amin


Responses

  1. semoga selalu selamat dalam bekerja dan dalam perjalanan mba…amiiinnn

    btw…alabio itu terkenal dengan kuliner ITIK BAPUKAH nya yaa…hoho

    ===
    amin .. makasih Zul🙂

    hahaha ,, kalau gtu kapan Zul ke alabio, kita makan itik bapukah .. eh itik panggang az gimana?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: