Posted by: nia | June 12, 2011

Tuk Sementara

Fitri terdiam beberapa saat, kelopak matanya berasa panas … kalau saja ia sedang sendiri, pastilah airmata langsung berjatuhan membasahi pipinya. Sayang sekali sekarang ada Yandi di hadapannya, mereka berdua saling terdiam. Keputusan Yandi untuk berangkat ke ibukota tidak bisa ditawar lagi, walaupun cuma beberapa hari saja.

“Kalau nanti pusat setuju dengan proposal  riset yang kaka ajukan, mereka akan mengirim kaka ke Jepang,” ujar Yandi mencoba melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terputus oleh perasaan yang bergejolak di dada mereka.

Fitri terdiam, di pandangnya sepotong bulan yang menggantung di langit malam. Bulan masih belum berbentuk purnama, bintang gemintang bertebaran memenuhi cakrawala. Sayang sekali keindahan malam tak mampu menembus kesedihan hati Fitri yang gundah gulana, barangkali setan-setan sedang berbisik supaya perasaannya meragu dan bergelimang dengan bimbang.

===

Tiga tahun lalu, Fiti berjumpa dengan Yandi dalam sebuah acara anak muda. Meski telah saling tegur sapa di dunia maya, dan memang pernah berjumpa sebelumnya. Namun baru kali itu Fitri melihat dengan sejelas-jelasnya sosok Yandi yang sering dipanggilnya “Mas!” ketika berdialog di koment blog. Masih tergiang jelas di telinga Fitri ketika dengan cueknya Yandi meledeknya kala itu, ” kaos kakinya bolong,” sambil telunjuk tangannya beraksi menunjuk salah satu kaki Fitri yang sedang memakai kaos kaki berwarna hitam.

Fitri, gadis bermata coklat dengan balutan celana jeans dan berkaos oblong lengan panjang merah maron. Berkaos kaki dan bersandal jepit forever, di bahunya bergantung tas ransel. Jika tidak menutupi mahkota kewanitaannya dengan jilbab hitam, bahwasanya terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya ia adalah sosok cewek tomboy.

Dengan tersipu malu Fitri memperhatikan kaos kakinya, “tumben banget ada yang detail memperhatikan penampilanku,” gumannya dalam hati sambil menyembunyikan salah satu kakinya di balik tas ransel yang selalu dibawa kemana-mana.

===

Kejadian itu telah berlalu tiga tahun silam, sekarang Yandi tidaklah seperti dulu … lelaki bersahaja yang membuat Fitri menemukan kebahagiaan bersama bunga cinta yang mekar mewangi diantara mereka itu benar-benar telah berubah. Ia tidak lagi suka meledek Fitri, tidak lagi membuat Fitri egois, tidak lagi membiarkan gadis itu berselimut dengan segala prasangka dan trauma. “Ah … Yandi memang benar-benar lelaki yang mengerti akan diriku,” begitulah kira-kira yang tertanam di benaknya Fitri.

Sekarang, Yandi sedang membiarkan Fitri mencerna tiap kalimat demi kalimat yang diungkapkannya. Berharap Fitri bisa ikhlas melepaskannya pergi ke Jakarta sesaat, bukan untuk hura-hura melainkan demi masa depan mereka.

Lagi-lagi pikiran gadis itu terbang ke masa silam. Ketika dengan berurai airmata ia tetap berusaha mendengarkan kepedihan kisah hidup Yandi, bagaimana kegagalan dan tipu muslihat seorang sahabat yang licik telah membuatnya setegar sekarang, menjadikan dirinya sebagai pribadi pemaaf dan lebih hati-hati ketika memutuskan sesuatu. Itulah yang membuat Fitri bahagia bersama Yandi.

Bahkan ketika dengan konyol seorang sahabat Yandi bertanya kenapa Fitri mau menjalin hubungan dengan lelaki itu, dengan santai ia menjawab bahwa Yandi adalah lelaki yang baik, yang bisa mengerti akan keinginan Fitri. Dan sesungguhnya Yandi memang cakep, bukan hanya cakep hatinya, tapi wajahnya juga … ia memiliki senyum khas yang tak terlupakan.

Kini, setelah mengenal Yandi cukup lama, setelah merasakan bahwa jalinan hubungan itu memang mempunyai kesamaan tujuan yang akan dicapai. Fitri baru merasakan betapa susahnya berpisah dengan kekasihnya walau hanya sebentar. Biarpun selama ini mereka tidak bertemu langsung setiap waktu, namun kalau masih satu kota rasanya itu tak apa-apa. Bagaimana jika berpisah jauh, terhalang oleh lautan? Sungguh Fitri tak bisa membayangkan.

===

Fitri bangkit, didekatinya lelaki itu perlahan. Bibirnya mengukir senyum …

“Semoga segala urusan pekerjaan kaka lancar di sana,” ucap Fitri dengan tulus.

“Terimakasih sayangku,” hanya kata itu yang mampu Yandi ungkapkan sambil menggenggam tangan Fitri. Sesungguhnya dalam hati ia merasakan bagai ada sembilu yang sedang mengiris-iris gumpalan darah berwarna merah itu, ia tidak pernah bisa jauh dan berlama-lama pergi dari gadis yang dicintainya. Namun, sebagai lelaki yang diberi tanggung jawab, ia harus bisa menempatkan perasaannya.

Sepotong bulan di langit semakin memancarkan sinar indahnya, setan-setan pun menjerit dan berlalu sambil memaki karena tak berhasil membuat keraguan di hati sepasang insan yang saling mencinta itu. Semilir angin malam berhembus dan membawa wangi kenanga yang bermekaran. Indahnya cinta jika berlandaskan rasa saling percaya …🙂

Perlahan alunan musik mengiringi kebersamaan mereka berdua, lirik lagu “Aku Pasti Kembali by Pasto” mengalun indah …

Waktu tlah tiba
Aku kan meninggalkan
Tinggalkan kamu
‘tuk sementara

Kau dekap aku
Kau bilang jangan pergi
Tapi ku hanya dapat berkata

Reff:
Aku hanya pergi ’tuk sementara
Bukan ’tuk meninggalkanmu selamanya
Ku pasti ’kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali

Kau peluk aku
Kau ciumi pipiku
Kau bilang janganlah ku pergi

Bujuk rayumu
Buat hatiku sedih
Tapi ku hanya dapat berkata

Back to Reff:

Pabila nanti
Kau rindukanku didekapmu
Tak perlu kau risaukan
Aku pasti akan kembali

Back to Reff: 2x


Responses

  1. Waduh, mengapa harus lagu Pasto?😛

    ===
    xixixixi .. trus lagunya sapa dong??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: