Posted by: nia | January 9, 2011

Ramai-ramai ke kebun

Matahari baru saja tergelincir,  namun panasnya masih terasa terik. Dan yang membedakan antara kota ini dengan kota tempat tinggal saya sebelumnya adalah seterik apa pun matahari bersinar, ketika melewati komplek demi komplek, hawa segar masih terasa. Begitu sejuk dan adem sekali, itu semua disebabkan oleh banyaknya pepohonan rindang di sepanjang jalan. Dan tentu saja mata kita akan dimanjakan oleh warna hijau dedauan, sungguh suatu nikmat hidup yang begitu berharga. Andai saja Banjarmasin masih memiliki banyak pepohonan, seperti di sini🙂

Dekat sebuah bank milik pemerintah, ada seorang penjual rujak. Siang hari yang begitu terik, warna warni buah-buahan yang dikemas dalam bungkusan seharga Rp 5000,- itu sungguh menggoda, ditambah dengan kacang tanah plus gula aren serta cabai sebagai bumbu pelengkap, betapa segarnya buah-buahan itu disantap.

Rujak itu sekarang ikut menemani perjalanan kami menuju sebuah tempat, mungkin ± 7 km dari pusat kota. Jalanan yang beraspal, kiri kanan perumahan penduduk, hingga real estate yang baru beberapa buah dibangun. Semua itu kami lewati, deru mesin pesawat sekali-sekali terdengar, entah itu akan take off maupun landing.

Berhenti di sebuah lahan yang ditumbuhi oleh beberapa pohon akasia, dan selebihnya oleh ilang-ilang. Begitu  luas menurut saya, dan jika lahan itu dimanfaatkan, wah … pasti hasilnya sangat memuaskan. Lahan itu milik orang tua kawan sekolah saya dulu, saya yakin orang tua dari kawan saya itu memiliki pola pikir jangka panjang jauh ke depan, buktinya beliau banyak memiliki lahan-lahan kosong seperti ini. Yang mungkin waktu dulu tempat ini belumlah seramai sekarang.  Dan menurut kawan saya, di sekeliling tanah milik ortunya itu telah dibeli oleh developer, berarti tak lama lagi di situ pun akan berdiri real estate, wah …

Saya berpikir, tanah seluas itu jika didirikan rumah pasti akan menjadi bangunan rumah yang besar. Dan jika hanya ditanami berbagai macam tanaman, maka akan menjadi sebuah kebun yang luas. Yang jelas, mau jadi apa nanti lahan ini tergantung pemiliknya. Cukup lama kami berada di tempat itu, panas terik matahari tak terasa karena kami terbantu oleh rindangnya pohon akasia. Coba kalau gak ada pohon-pohon seperti akasia itu, pasti sinar matahari langsung membakar kulit. Sambil berbincang-bincang, kami saling mengungkapkan rasa kagum tentang lahan ini yang letaknya sangat strategis, dan tanahnya yang juga subur. Cocok banget untuk diolah. Saya kemudian menyeletuk “coba dari awal pohon akasia ini diganti dengan pohon mangga, kelihatan hasilnya.”

***

Lagi-lagi saya teringat dengan alm Abah, beliau menanam berbagai macam pohon di kampung sana. Pohon-pohon itu tidak memerlukan perawatan ekstra, namun ketika sampai masanya maka pohon-pohon itu akan menghasilkan buah yang bisa dimakan sendiri, kalau hasilnya melimpah tentu bisa dijual.

Ingatan saya beralih pada seorang kawan yang dengan gigihnya membuat sistem tanaman hydroponik,  yang hingga sekarang telah mulai menunjukkan hasilnya, benih yang disemai tumbuh subur pada media sederhana. Semoga tak lama lagi akan segera berbuah dan bisa dipetik, amiin.

***

Ketika waktunya untuk pulang, kami bertiga kembali menyusuri jalanan beraspal tadi. Mampir di sebuah toko yang menjual berbagai bibit tanaman. Entah kenapa, saya sangat senang liat kemasan berbagai bibit itu. Seandainya saja berbagai  bibit tanaman itu benar-benar telah berubah menjadi tanaman yang tumbuh subur menghasilkan buah, alangkah bahagia memandangi buah-buah itu.

Untuk sementara, saya hanya bisa memandangi beberapa pohon cabai yang buahnya sudah memerah dan lumayan banyak. Bisa dipetik untuk bikin sambal, hemm … yummy. Sukur banget ada tanaman itu di kebun, jadi ketika harga cabai melambung tinggi, saya tinggal melangkah ke kebun.

Sebelum meninggalkan toko bibit  itu, seorang ibu pemilik warung makan di sebelahnya bertanya kepada kawan saya

Ibu : “dari mana?”

Kawan : “dari kebun”

Ibu : “hebat … berkebun pakai komputer” ( sambil bcanda, soalnya Ibu itu taunya kawan saya tersebut  dulu pernah bekerja sebagai tenaga ahli madia komputer, di kantor biro jasa tepat disamping warung tersebut)

Kawan : “xixixixixi… ” ( ketawa cekikikan) dan berlalu.


Responses

  1. kapan ya saya itu dikasih niat rajin untuk berkebun gitu
    hehe

    ===
    Nanti omm, kalau dah liat kebun saya .. he he
    btw … kalau untuk nanam cabai sama tomat sebenarnya bisa di pot, buat hiasan ..🙂

  2. Salam kenal dari Petani Sampit…….

    ===
    Salam kenal kembali ya O\Pak, terimakasih ya dah mampir

  3. mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: