Posted by: nia | December 22, 2010

Perjuangan seorang Ibu

Untuk kesekian kalinya saya menginjakkan kaki di rumah sakit ini, setelah  sempat berjalan lumayan jauh dari parkiran yang ada di halaman samping belakang, karena parkiran di depan sudah penuh.  Hampir 2 minggu bolak balik ke rumah sakit membuat saya jadi merasa hapal dengan lingkungan di sana. Terutama dengan beberapa tempat yang mesti saya datangi sesuai dengan prosedur rumah sakit. Bicara tentang rumah sakit dan pelayanannya, sebenarnya kalau tidak terpaksa sungguh saya sangat malas ke sana. Tapi karena keadaan yang memaksa akhirnya saya harus mau melakukannya.

 

***

Suatu sore saya pergi ke dokter keluarga, niat hati cuma ingin konsultasi dengan dokternya yang kebetulan bertahun-tahun telah menjadi langganan saya. Tapi sore itu ternyata bu dokter yang bersangkutan  sedang tidak praktek, beliau digantikan oleh dokter yang baru saya kenal saat itu.

Setelah melewati beberapa tahap pemeriksaan dan menjawab beberapa pertanyaan yang lebih sering saya jawab tidak, akhirnya saya ditanya apakah bersedia dikasih surat rujukan ke rumah sakit. Saya mengiyakan dengan catatan rumah sakit rujukan itu bisa saya tentukan, dokternya pun setuju.

Pulang ke rumah, menunggu sampai besok pagi untuk pergi ke rumah sakit rujukan dari dokter. Saya pun langsung berniat untuk puasa saja, siapa tau bisa cek darah sekalian seusai mengurus administrasi.  Pagi-pagi sekali saya langsung berangkat ke rumah sakit, berhubung di rumah sakit itu saya baru pertama kali berurusan, tentu saja saya masih bingung. Namun akhirnya alhamdulillah semua berjalan lancar dan saya bisa bertemu dengan dokternya, kebetulan saat itu saya dirujuk ke poli bedah.

Sedikit kekecewaan saya adalah ternyata di rumah sakit itu belum tersedia alat yang diperlukan oleh si dokter untuk melakukan pemeriksaan terhadap saya. Saya hampir tidak percaya, namun apa boleh buat … akhirnya saya dirujuk lagi ke rumah sakit yang satunya. Duh, dengan jarak yang lumayan jauh dan hari mulai siang, saya tetap memutuskan untuk ke rumah sakit rujukan terbaru dari dokter.

Tiba di rumah sakit…

Setelah menunjukkan surat rujukan ke bagian administrasi, saya diminta langsung ke poli THT, padahal jelas tertulis di surat itu saya harus ke poli bedah. Karena saya tidak terlalu paham dengan itu semua dan juga karena masih bingung, saya langsung menuju lantai 2 tempat poli itu berada. Berkas-berkas itu langsung saya serahkan ke petugas, sayang sekali saya saat itu tidak teliti sehingga saat dicek ulang ternyata nama saya tertukar dengan orang lain. Saya terpaksa harus ke bagian administrasi lagi untuk minta berkas saya.

Tidak sampai disitu saja perjuangan saya, ketika menunggu antri dan dipanggil untuk konsultasi. Ternyata memang saya mestinya harus ke poli bedah, bukan poli THT. Ini keteledoran siapa? Petugas administrasi di rumah sakit, atau saya yang memang belum tau apa-apa saat berurusan di rumah sakit? Tapi sudahlah … saya tidak memperpanjang masalah.

Di poli bedah, saya langsung menyerahkan berkas-berkas saya ke petugas. Cukup banyak yang antri rupanya karena hari sudah menjelang siang. Saya yakin waktunya gak akan cukup untuk pasien sebanyak itu. Sekitar 5 menit saya kembali dipanggil oleh petugasnya, dan diminta untuk datang lagi lusa karena saat itu dokternya tidak ada jadwal.

Setelah menunggu 2 hari, saya kembali ke rumah sakit itu. Datang lebih pagi supaya bisa cepat beres. Setelah lebih 2,5 jam menunggu akhirnya dokternya datang juga, hemmm … seandainya jadwal dokter itu tepat waktu seperti yang tertera di kaca ruang petugas, mungkin tak perlu antri berjam-jam seperti yang saya alami. Tiba giliran saya dan berhasil konsultasi  dengan dokternya, saya pun harus cek lab. Tetapi ada berkas yang mesti saya lengkapi ntuk keperluan itu, dan jelas gak akan selesai saat itu juga. Akhirnya saya harus kembali besok pagi.

 

Keesokan harinya, saya antri untuk diambil sample darah di bagian lab rumah sakit itu. Dan dari jam 10 tadi malam saya sudah puasa, berharap setelah selesai diambil sample darah, saya bisa mengetahui hasilnya beberapa jam kemudian. Tetapi ternyata saya harus kembali seminggu kemudian.

Sambil menunggu hasil pemeriksaan, saya rajin mencari referensi pengobatan alternatif/ tradisional. Memang belum diketahui hasil terakhir dari sample darah saya, tetapi paling tidak saya telah berusaha untuk melakukan pengobatan secara tradisional. Dari berbagai sumber yang saya dapatkan, hal paling mudah saya lakukan adalah minum madu asli setiap hari.

Seminggu berlalu, saya pun kembali ke lab rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan, setelah mendapatkan hasil lab itu saya tidak bisa langsung konsultasi dengan dokter karena jadwal dokternya 2 hari lagi. Hem, aneh yaaaa … tapi yang namanya saya sedang perlu, harus sabar jadinya.  Tiba sudah hari yang saya tunggu, saya bertemu dengan dokternya dan konsultasi.

Setelah sempat tertunda berkonsultasi dengan dokter yang menangani saya karena salah satu pasien dokter itu balik lagi ke ruangan, saya bersabar menunggu giliran meski sudah berada di ruangan.  Sungguh saya sangat prihatin dan sedih yang luar biasa. Pasien itu adalah seorang ibu yang sedang hamil 6 bulan, awalnya saya tidak tau apa derita ibu itu, namun ketika saya dengar dokternya memberi pilihan antara menyelamatkan ibu atau bayi yang ada dalam kandungannya, saya termangu. Hampir gak percaya dengan apa yang saya dengar. Pilihan yang sangat sulit bagi pasien.

Ibu itu mengidap kanker ganas payudara, sedang hamil 6 bulan? Bisa dibayangkan betapa beresikonya tindakan medis yang akan dilakukan, sampai-sampai dokternya berkata seperti itu. Saya masih termangu dan hanya bisa menatap dengan perasaan sedih. Ibu itu harusnya tidak boleh hamil ketika mengetahui mengidap kanker ganas, atau kalau terlanjur hamil juga, diusia hamil muda mesti digugurkan. Tetapi ibu itu berusaha meminta pengertian dokter, namun dokternya tetap pada keputusan tidak akan melakukan tindakan kemoterapy sampai bayi itu lahir.

===

Sungguh menyedihkan ketika saya bertemu dengan pasien ini disaat yang kurang tepat, beberapa kali saya jumpai penderita kanker payudara  menemui ajal dengan kedua payudaranya samasekali sudah tidak utuh lagi alias telah dibuang/ operasi. Bahkan dahulu di kampung halaman saya, seorang penderita kanker payudara setelah berkali-kali operasi dalam kurun waktu 4 tahun harus meninggal dunia akibat keganasan penyakit itu.

Kanker/tumor payudara merupakan momok yang menakutkan bagi para wanita, wanita manapun berpotensi untuk mengidap penyakit ini. Saya jadi teringat dengan pesan abah saya, jika mengidap penyakit itu kalau masih memungkinkan, lakukanlah pengobatan secara tradisional, sedapat mungkin jangan melakukan operasi karena sama saja dengan membangunkan seseorang yang lagi tidur. Pikiran saya sependapat dengan pesan abah itu, kanker adalah penyakit yang tumbuh di bagian tubuh  dan akarnya menyebar kemana-mana. Jika dalam operasi akarnya ada yang tertinggal, suatu hari pasti akan tumbuh lagi.

Dengan melakukan pengobatan secara tradisional yang tujuannya adalah membunuh sampai ke akar-akarnya, mudah-mudahan penderitanya bisa disembuhkan tanpa harus melakukan operasi. Apalagi gejala dini penyakit itu telah diketahui. Salah satu cara pengobatan tradisional itu adalah dengan rajin meminum air rebusan akar benalu. Beberapa akar benalu yang berkhasiat itu adalah akar benalu yang tumbuh di pohon jambu biji, pohon langsat/ duku, dan benalu teh. Penderitanya juga sedapat mungkin jangan makan makanan yang rentan menyuburkan kanker itu. Saya pernah mendapatkan informasi dari seseorang yang punya teman penderita kanker stadium 4 dan berkali-kali operasi dan menjalani kemoterapy, pada akhirnya bisa sembuh dengan rajin mengkonsumsi ikan haruan yang dikukus ( disumap : bahasa banjar red ).

===

Akhirnya ibu tadi keluar dari poli bedah setelah minta resep  dari dokter. Saya sempat melihat dalam jarak yang lumayan dekat kalau satu payudaranya telah hilang, ingin sekali saya ngobrol dengan ibu itu … namun apa daya saya harus konsul dengan dokter yang menangani saya dengan hasil diagnosa yang berbeda dari ibu tadi.  Semoga ibu itu diberi kelancaran dalam proses melahirkan, semoga ibu itu berhasil melewati masa kritis ketika harus memilih pilihan yang sangat sulit. Oh ibu … sungguh berat perjuanganmu demi melahirkan seorang anak. Semoga nanti kalian berdua bisa diselamatkan, amin.

***

Banjarmasin, 22 Desember 2010

Selamat Hari Ibu

Surga ada di telapak kaki Ibu, kasih Ibu sepanjang masa

 

 


Responses

  1. Sebagai anak kita gak bisa membalas “jasa” Ibu…😥

  2. Perjuangan seorang ibu antara hidup dan mati demi menyelamatkan anaknya… sungguh luar biasa..

  3. lagi-lagi terharu kalo udah baca yang begini😥

  4. Allahu akbar…ya Allah berikan jalan terbaik bagi ibu tersebut dan Ibu-ibu lainnya,,,terharuu hiks hiks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: