Posted by: nia | December 9, 2010

Lampu Merah

Puluhan tahun yang silam, ketika itu saya masih duduk di bangku kelas I  Sekolah Dasar  di sebuah kampung yang jaraknya ratusan kilometer dari Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan yang sekarang ini di bulan Desember,  di beberapa  ruas jalannya  banyak  tergenang oleh air. Memang tidak terlalu beda dengan kondisi di kampung halaman saya yang juga jalan kampungnya  terendam  air akibat banjir.

Waktu itu untuk pertama kalinya saya diajak ke Banjarmasin oleh keluarga besar  mama, berkunjung ke rumah adik lelaki dari nenek saya yang biasa kami panggil Kai Haji. Rumah beliau di seputaran kebun bunga di A Yani  km 3,5. Yang terbanyang di otak saya ketika itu adalah luasnya jalan raya dengan banyaknya jenis kenderaan bermotor, yang di beberapa perempatan akan dijumpai lampu merah. Itulah hal yang membedakan antara kota dan desa versi saya yang masih kecil dan belum pernah sekali pun ke kota.  Tidak saya bayangkan adanya bangunan-bangunan bertingkat seperti sekarang, ya … cukup jalan rayanya saja🙂 he he he

Sekarang, ketika separo usia saya telah terlewati di kota ini. Terlalu banyak perubahan yang telah terjadi di Banjarmasin. Sangat sulit untuk merinci satu persatu, yang jelas adalah Banjarmasin telah maju pesat. Namun, disaat semuanya telah maju dengan pesat, ada hal kecil yang beberapa bulan ini mengganjal di pikiran saya.

Sebagai warga kota Banjarmasin, yang setiap berangkat dan pulang dari bekerja selalu melewati berkilo-kilo meter jalan raya. Tentu saja  hal demikian tidak bisa terlepaskan dari yang namanya lampu merah. Lampu merah bukan hanya sekedar menjadi tolak ukur dari disiplinnya para pengguna jalan, bukan hanya sebagai alat bantu polisi untuk mengatur waktu lalu lintas, bukan hanya pengenalan warna merah, kuning dan hijau bagi anak-anak yang baru tau akan warna. Tetapi lampu merah telah memberikan saya sebuah pertanyaan manakala di situ juga telah tergantung tulisan “Belok kiri ikuti isyarat lampu” atau Belok kiri jalan terus.”

Sepintas lalu tulisan itu sungguh sangat bagus,  tetapi lama kelamaan hal itu seolah tidak ada artinya lagi. Misalnya lampu merah di perempatan MM Ana/ dekat Tulip Kayu Tangi  yang ada pos polisinya. Jelas terbaca “Belok kiri ikuti isyarat lampu”, tetapi sering kali saya melihat hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh segelintir pengendara. Suatu hari, karena ingin mentaati tulisan yang tertera itu saya pun berhenti menunggu lampu hijau menyala. Tetapi tiba-tiba, seorang pengendara dengan seenaknya mencoba menerobos lampu merah dengan belok kiri, tanpa peduli dengan isyarat lampu. Akhirnya kaki saya tersenggol oleh ban motornya, meski tidak sempat terjatuh dan sedikit merasakan sakit, hati saya agak dongkol juga dengan ulahnya. Coba ada pak polisi, tentu tidak ada yang berani menerobos lampu merah, terlebih telah ada isyarat seperti bunyi tulisan itu.

Beda lagi dengan lampu merah di simpang empat Belitung, dari arah Kayu Tangi. Tulisan yang tertera di lampu merah itu adalah “Belok kiri jalan terus.” Tetapi entah karena tulisan itu benar-benar tidak ada artinya lagi, atau mungkin memang tidak ada pengguna jalan raya yang berusaha untuk disiplin, akhirnya ketika harus jalan terus justru yang terjadi malah berhenti karena terhalang oleh barisan motor yang menunggu lampu hijau menyala.

Jadi pertanyaan saya, apakah tulisan yang tertera di lampu merah itu bisa berfungsi sebagaimana harapan dari pembuatnya. Atau kah itu cuma sebagai tulisan biasa tanpa maksud apapun? Dan apakah pak polisi masih harus tetap memberi petunjuk setiap saat kepada pengguna jalan supaya bisa disiplin?

Sudah saatnya kita sebagai warga banua menunjukkan sikap yang mau mengalah dengan menuruti peraturan yang berlaku.  Jangan lagi keras hati dengan tetap menerobos lampu merah ketika belok kiri ada isyarat berhenti, atau jangan berhenti ketika belok kiri diisyaratkan untuk terus. Berhenti sesaat di lampu merah itu tidak akan menunda kita untuk sampai ke tujuan, percaya lah bahwa dengan mentaati peraturan lalu lintas, kita turut serta menjaga ketertiban di jalan raya. Mari kita berdisiplin di jalan raya🙂


Responses

  1. beautiful posting…taati peraturan pemerintah

  2. Heemmm….Lampu Merah….
    Malah yang kadang-kadang menjengkelkan ketika lampu ditempat kita sudah menyala hijau, lampu yang lain merah, eh ternyata masih saja ada yang menerobos, padahal giliran dia yang berhenti…akhirnya dia tertahan di tengah jalan.. ya anggaplah melatih kita sabar.. hehehe..
    Mari berdisiplin… mari juga sedikit demi sedikit hilangkan kebiasaan menggunakan kendaraan bermotor untuk bepergian -terutama untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh- dengan kembali ke kebiasaan kita sewaktu kecil, apa itu? Bersepeda..!! iya Bersepeda..!!
    Bersepeda, selain untuk olahraga, mengurangi kemacetan, juga bisa sebagai solusi berhemat dan mengurangi polusi udara. Mari Berbuat untuk alam..

  3. mantap bu..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: