Posted by: nia | September 17, 2010

Dahulu dan sekarang

Wanita berpakaian muslimah itu tidak berani menatap mata suaminya, dengan tetap tertunduk sambil berusaha mengartikan apa arti tatapan tanpa kedip dari lelaki yang telah menikahinya 17 tahun lalu, bibirnya yang hanya dipoles dengan sedikit lipstik merah itu pun ikut membisu.

“Umi, abi hanya ingin umi tidak memakai perhiasan yang berlebihan, karena bagaimanapun penampilan umi … asalkan sudah menutup aurat, umi akan tetap terlihat cantik dan bersahaja. Dan itu jauh akan lebih aman untuk umi, juga bisa meminimalisasi niat jahat dari orang yang memandang, dan yang penting bisa menghindarkan umi dari sikap suka pamer. Sekarang umi sudah mengerti bukan kenapa abi tidak suka jika ada wanita yang memakai perhiasan yang berlebihan???”

“Iya Abi, maafkan umi … tadinya umi ingin menunjukkan ke abi bahwa perhiasan-perhiasan yang tetangga sebelah pakai itu sama bentuknya dengan punya umi” jawab wanita itu sambil mencium tangan suami tercintanya. Dan kemudian setelah itu, perlahan-lahan tangan sang istri tadi melepas beberapa perhiasan yang menempel di tubuhnya dan kembali menyimpan di kotak perhiasan.

====
Dari balik pintu kamar belakang, yang tidak tertutup rapat … seorang anak perempuan berusia 11 tahun melihat kejadian antara umi dan abinya. Dalam hati kecilnya … sang anak perempuan tadi bertanya ” kenapa ya, abi itu kalau sedang marah … mata beliau selalu melotot dan umi hanya terdiam menunduk?”

Tahun berlalu … sang anak perempuan tadi menginjak usia 14 tahun, dan telah selesai menamatkan pendidikan di bangku SMP. Pertanyaan yang tak terjawab ketika usianya masih 11 tahun kala itu, kini pun terjawab dengan sendirinya.

“Ternyata umi adalah seorang istri yang takut dan selalu patuh dengan suami serta berusaha menjadi istri yang sholehah”

=====

Roda kehidupan berputar, si anak perempuan tadi harus menginggalkan umi dan abi, tinggal di kota lain … ikut di rumah nenek dan kakek dalam rangka meneruskan sekolah dan kuliah.

Rupanya kehidupan di kota tempat tinggal nenek dan kakek lebih maju daripada kehidupan di tempat abi yang kebanyakan pekerjaan para istri adalah full time mother, bukan wanita karier seperti di lingkungan tempat tinggal nenek. Tak jarang ia mendengar pertengkaran suami istri yang berujung pada adu mulut.

Beranjak dewasa, gadis itu kembali bertanya dalam hati … “kenapa disini ada istri berani kepada suami, bukan kah suami itu kepala keluarga, imam bagi anak dan istrinya????, kalau berani menjawab seperti itu … bagaimana jika anak-anaknya melihat hal itu???”

===

Roda kehidupan terus berputar …
Anak perempuan tadi telah menjelma menjadi sosok wanita mandiri, yang telah dididik sedemikian rupa oleh abi dan umi dengan berlandaskan keimanan kepada sang Khalik, meski tidak dapat dibantah bahwa acap kali matanya melihat langsung dari tiap kejadian yang dijumpai dilingkungan yang sekarang telah terekam di memori otaknya.

Dalam hatinya sekarang tidak lagi ada pertanyaan, tapi sebuah harapan dan keinginan …

====

Wirabakti, 12:37 AM


Categories