Posted by: nia | September 16, 2010

Seperti apakah kelak?

Pulang ke kampung halaman saat merayakan lebaran Idul Fitri 1431 Hijriyah kemarin. Berkumpul dengan orang-orang yang saya cintai. Ketika memasuki desa kelahiran, saya dikagetkan oleh pemandangan yang tidak biasa. Memang hampir 3 bulan ini saya tidak pulang kampung, sehingga tidak tahu bahwasanya di sana telah dibangun sebuah jembatan baru lagi. Dan ketika berkomunikasi dengan ibu maupun saudara yang ada di kampung via telepon, tidak pernah juga diceritakan tentang hal itu.

Jembatan baru tersebut dibangun persis di samping jembatan lama, kondisi jembatan lama itu memang tidak sebagus puluhan tahun yang lalu. Namun masih bisa dipakai oleh masyarakat. Saya pun penasaran, untuk apa jembatan itu dibangun? Jawaban yang saya dapatkan sunguh membuat terperangah. “Jembatan itu khusus untuk angkutan hasil tambang yang akan mulai beroperasi 1-2 tahun lagi.”

Hah? Di daerah saya ada hasil tambang?  Siapa yang menjadi investornya? Beruntun pertanyaan yang saya simpan di kepala. Ingatan saya langsung melayang ke daerah Binuang ( ± 80 kilometer dari kota Banjarmasin ),  yang merupakan salah satu penghasil batu bara. Sungguh memprihatinkan sekali rasanya melihat akibat pertambangan itu. Hati saya semakin teriris perih manakala mengetahui investor yang akan menambang di daerah saya itu nantinya adalah investor asing. Lalu dimanakah orang kaya di negeri ini? Kenapa bukan mereka saya saja yang sekalian mengeruk hasil alam negaranya sendiri? Kenapa mesti investor asing yang menikmati hasil kekayaan alam ini?

Hiks!!  Saya memang tidak punya kekuatan apapun untuk  menjaga kelestarian alam lingkungan di desa saya, namun jika membayangkan akan jadi apa kelak kampung saya ketika tambang itu selesai beroperasi? Sungguh saya tidak sanggup! Barangkali apa yang saya bayangkan itu terlalu berlebihan, atau mungkin ini juga akibat dari penglihatan langsung saya ketika melewati daerah Binuang, entahlah.

Berbagai kesedihan tiba-tiba menghantui pemikiran saya, kampung kelahiran saya yang terkenal sebagai penghasil ternak Itik , atau juga kerajinan tangan berupa hasil border,  perlahan akan menjadi sebuah kampung yang ramai oleh aktifitas pertambangan. Mungkinkah masyarakatnya bisa menjadi sejahtera? Ataukah perlahan menjadi sengsara karena kekayaan alamnya dikeruk oleh para investor itu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: