Posted by: nia | January 26, 2009

Ketika perceraian itu ia nantikan

Aisha berkeras untuk kembali ke rumah orang tuanya, pertengkaran dengan Bardi tadi siang sungguh membuatnya tidak bisa lagi bertahan di rumah suaminya itu. Padahal belum genap 4 bulan ia melahirkan bayi perempuan yang lucu dan mungil serta sehat wal afiat.

===

Pernikahan Aisha dan Bardi dilangsungkan karena perjodohan dari kedua belah pihak keluarga, dan kedua  keluarga itu sebenarnya masih ada ikatan persaudaraan. Ibu dari Aisha adalah saudara sepupu dari ibunya Bardi. Tradisi di kampung itu yang selalu menjodohkan anak-anaknya masih berlaku sampai pada kedua anak manusia itu.

Semenjak lulus SMEA, Aisha tidak lagi melanjutkan pendidikan kebangku perguruan tinggi,  ia ingin menjadi seorang pedagang kala itu. Disamping kehidupannya di kampung jarang tersentuh oleh tingginya pendidikan dibangku kuliah. Rata-rata penduduk kampung memang mata pencahariannya adalah berdagang dan bertani.

Pun setelah selesai sekolah, Aisha mulai membuka warung kecil-kecilan … berjualan pakaian anak-anak dan pakaian perempuan dewasa. Dengan jiwa dagang yang dimilikinya, akhirnya adik dari orang tuanya berminat untuk ikut terlibat dan membeli sebuah toko, rencananya toko itu akan dilengkapi dengan segala perlengkapan wanita. Dan itu pengelolaannya diserahkan kepada Aisha.

Atas persetujuan orangtua Aisha, maka toko itupun dikelola olehnya … sebagai seorang pedagang, maka tak jarang Aisha harus bolak balik ke kota untuk membeli berbagai jenis pakaian, ataupun membelikan pesanan langganannya.

2 tahun menjalani bisnis itu, Aisha dilamar oleh keluarga Bardi. Alasan mereka adalah karena mereka sudah mengenal keluarga Aisha dengan baik, tau kelakuan gadis itu …

Prosesi lamaran segera dilangsungkan, 2 minggu berikutnya pernikahan dilaksanakan. Dan resepsi pernikahanpun digelar dengan sangat meriah, kebiasaan dikampung itu yang selalu bahu membahu jika ada acara perkawinan, pun dengan pernikahan Aisha dengan Bardi. Apalagi orang tua Aisha adalah seorang yang cukup terpandang, yupe .. tokoh agama di kampung itu.

Usai pernikahan itu, Aisha diboyong ke rumah Bardi … mereka hidup bertiga dengan orang tua Bardi. Sebagai seorang menantu, tentu saja Aisha berusaha menjadi menantu yang baik, apalagi ia teringat dengan pesan ayahnya, apapun yang terjadi … ketika ia telah menjadi seorang istri, ia harus patuh kepada suaminya.

Bulan telah berganti, Aisha pun hamil … mengandung anak pertama mereka, konflik rumah tangga mulai terjadi, disamping mertuanya lebih sering ikut campur urusan rumah tangganya … Bardi rupanya selama ini sering banget pergi ke orang pintar. Suatu hal yang sangat bertentangan dengan aqidah Aisha.

Awalnya Aisha berusaha bicara dari hati ke hati dengan suaminya itu, namun ternyata Bardi telah terlarut dengan kepercayaan terhadap orang pintar, setiap musibah yang menimpa selalu saja ia pergi menemui orang itu. Aisha mulai tidak tahan !!!

Menjelang kelahiran anak pertamanya, Aisha meminta untuk tinggal bersama kedua orang tuanya saja sampai ia melahirkan. Bardi pun mengantarkan istrinya ke rumah mertuanya, sampai anak pertama mereka benar-benar lahir.

Ketika bayi mungil itu telah lahir, meninjak bulan ke-4 … Aisha kembali ke rumah Bardi, hidup lagi bersama mertuanya. Saat itu,  ibu satu anak itu berpikir bahwa kebiasaan suaminya pergi ke orang pintar telah berubah, makanya ia mau kembali kerumah tersebut. Namun sungguh disayangkan, kebiasaan itu semakin parah.

Dengan berat hati ia pun berbicara dengan ibu mertuanya, dan sungguh ia kaget bukan kepalang. Ternyata anak dan ibu sama saja, Aisha menangis … ia bingung harus bagaimana menghadapi situasi seperti itu. Dia pun kemudian mendekatkan diri kepada Allah, memohon petunjuk jalan yang terbaik.

Musibah demi musibah datang silih berganti, kehidupan ekonomi keluarga Bardi berubah drastis, harta mereka perlahan terkuras karena lebih sering ke orang pintar dan membayar orang pintar itu.

Suatu siang, Bardi tiba-tiba memaksa Aisha untuk membuka bajunya … mencoba untuk mencari sebuah “tahi lalat” di daerah terlarang dari tubuh Aisha. Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja Aisha tidak terima, meskipun Bardi adalah suaminya, tetap saja perlakukan tidak  sopan itu tidak patut ia tunjukkan.

Setelah berhasil memaksa Aisha, dan kenyataan yang ia dapat sungguh sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang pintar itu, dengan kasar ia berkata, “dasar wanita pembawa sial” kalimat itu terlontar dari mulut Bardi. Aisha tercengang, ternyata suaminya sangat kasar dan tidak punya peri kemanusiaan.

Aisha kemudian bertanya, Bardi dengan berapi-api menjelaskan bahwa ia telah pergi ke orang pintar, dan orang pintar itu memintanya untuk memperhatikan sebuah tahi lalat yang ada di tubuhnya. Tahi lalat itulah yang membuat kesialan selalu terjadi pada keluarga mereka. Kesialan itu bisa hilang jika Aisha dibawa mandi ke orang pintar tadi dan dibuang dengan suatu cara.

Hati Aisha begitu marah dengan apa yang baru ia dengar, ia ingin memprotes kata-kata suaminya. Tapi bagaimana caranya? Dalam keadaan seperti itu pasti Bardi akan semakin tersulut api kemarahan.

Akhirnya Aisha terdiam, tidak memberikan respon atas kata-kata Bardi … ia mencari cara bagaimana bisa pergi dari rumah itu dan kembali ke orang tuanya saja. Ia tidak mau dimandikan, apalagi dengan alasan membuang kesialan.

Sore itu, tanpa pamit kepada suami dan mertuanya … Aisha pergi meninggalkan rumah itu dengan membawa buah hatinya. Ia mengerti bahwa apabila seorang istri meninggalkan rumah suami tanpa ijin, maka ia telah durhaka pada suami. Tapi disisi lain, ia lebih yakin bahwa Allah pasti akan mengampuni apa yang ia lakukan. Ia tidak mau menodai aqidahnya dengan percaya bahwa kesialan itu datang dari sebuah tahi lalat yang ada di tubuhnya.

Sampai di rumah orang tuanya, Aisha pun bercerita kepada ayahnya. Sebagai seorang tokoh agama, ayahnya tersebut berusaha untuk menenangkan anaknya. Dan sejak sore itu, Aisha memutuskan minta cerai sama suaminya.

Keputusan untuk bercerai itu terpaksa ia lakukan karena suaminya tidak bisa lagi diajak kembali kepada kemurnian aqidah. Walaupun sebenarnya Bardi tidak ingin memenuhi permintaan cerai itu, namun pengaruh dari orang pintar yang telah meracuni pikirannya lebih kuat.

Selama menunggu proses perceraian itu, Aisha tinggal di rumah orang tuanya, membesarkan buah hatinya dengan membuka usaha kecil-kecilan yang dulu juga pernah ia rintis.

Tiada nafkah yang diberikan oleh Bardi untuk mereka berdua, dan orang tua Aisha pun tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya menantunya itu memang tidak pantas lagi mendampingi anak perempuannya.

Berbulan-bulan, surat cerai itu tak kunjung Aisha terima … Bardi benar-benar menggantung status Aisha, dasar lelaki yang tak punya keputusan. Mereka ingin keluarga Aisha yang menggugat cerai, sementara keluarga Aisha ingin Bardi yang menceraikan Aisha !!!


Responses

  1. Wah ceritanya bisa buat sinetron nich,ya paling ndak buat kumpulan cerpen terus dibukukan aja.salam

    ****
    he he he .. tks yaaaa

  2. salam kenal sama bubuhan yg satu ini. napa habar dangsanak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: