Posted by: nia | November 27, 2008

Seorang Sinta

Kamar 8 x 7 meter itu sudah 4 hari ini tak pernah ditinggalkan oleh penghuninya. Bahkan spring bed dibungkus seprai berwarna pink itupun hampir tiada jeda kosong. Bukan karena dikamar itu dilengkapi dengan segala fasilitas layaknya sebuah kamar hotel dan membuat si pemilik menjadi betah untuk berdiam diri disana, melainkan kondisi kesehatan lelaki yang sedang terbaring itu mengharuskannya demikian.

Wajah lelaki itu pucat sekali, sinar matanya redup namun masih terlihat memerah … kurang tidur atau bahkan tak bisa tidur, ntahlah !! 2 hari sebelumnya … kediaman itu terpaksa didobrak pintu kamarnya oleh beberapa orang, demi alasan kemanusiaan. Yaa … penghuninya tidak bisa membukakan pintu, jangankan membukakan pintu … beranjak dari tempat tidurpun tidak mampu. Sakitnya benar² parah.

Ada 4 orang lelaki yang menyambangi kediaman itu, salah satu diantara seorang dokter yang membawa seperangkat peralatan medis. Sementara yang lainnya membawakan makanan, suatu kondisi yang sangat memprihatinkan.

Lelaki yang berusia 34 tahun itu baru saja menginjakkan kaki dibumi lambungmangkurat, dan sebuah kehidupan baru dimulainya jauh dari keluarga, terutama jauh dari seorang perempuan yang usianya 10 tahun lebih tua dari usianya saat itu, perempuan sialan itu telah merubah paradigma berpikir si lelaki  tentang sebuah hidup bersama satu atap tanpa pernikahan, ya … kehidupannya dari hasil didikan selama ia tinggal diluar negeri.

6 tahun yang lalu, sekembalinya perempuan itu dari menimba ilmu disebuah universitas bergengsi di negeri kincir angin. Ia kembali ke tanah air, dan mendirikan sebuah yayasan pendidikan dikota Bandung. Pertemuannya dengan Hendri, eksekutif muda asal Surabaya itu terjadi disebuah seminar. Pertemuan itu kemudian membuat Sinta itu kepincut dan jatuh hati, meski sadar dengan usianya yang lebih tua dari Hendri, tetap saja dia tak perduli. Bahkan dengan statusnya sebagai janda  justru membuat Sinta lebih berani untuk mengungkapkan rasa sukanya.

Hendri, sebenarnya telahpun bertunangan dengan Yulia, anak seorang dosen perguruan tinggi di Bandung. Hubungan mereka telah terjalin 4 tahun lamanya, dan rencana pernikahan disepakati 6 bulan lagi.

Bukan lelaki namanya jika Hendri tidak tertarik dengan Sinta, wanita seksi itu benar² membuat Hendri mabuk kepayang … suatu hal yang tidak didapatnya dari Yulia, sang tunangan … dengan mudahnya ia dapatkan dari Sinta. Dari situlah kemudian perselingkuhan keduanya berlanjut.

Sinta tau bahwa dalam beberapa waktu lagi Hendri akan segera menikah, namun ia tidak rela jika harus melepaskan lelaki yang telah memberikan kehangatan dihari² belakangan ini. Sungguh, Sinta bertekad merebut Hendri dari Yulia bagaimanapun caranya.

(tar lagi sambungannya yah )


Responses

  1. ini piktif lagi ya?
    jangan kebanyakan menghayal nanti stres…..

    *sebelum ditimpuk mending kabur ah…,”

    sip .. fiktif dunk, mengkhayalnya dikit doang, jangan khawatir

  2. ta tunggu episode berikutnya

  3. cerpen karya sendiri ya:)..wat nia lam kenal ja nah anak tanjung..

  4. Padahal sinta tak seputih santi…

  5. siiiip… terus nulis ya Mba…. Saya penasaran gimana endingnya…

  6. iya bener kata carbone, saya saja hampir terenggut kewarasannya. untung cepat pulih

  7. Umm… teruuuus??

  8. ManSup benar, karena shinta tidak pake lotion


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: