Posted by: nia | September 13, 2008

Kuntum Teratai

kuntum teratai

Sabtu, 13 September 2008 @ 13:52 WIB –

aku telah lelah menjadi peri ditelaga ini ..
lelah menjadi kuntum teratai nan merah terbiar sendiri ..
lelah menemani hembusan angin senja dan sinar redup mentari ..
lelah berdiri menahan perihnya duri yang menancap  tiada peduli ..

aku berkirim bisikan pada helai dedaun kering berjatuhan ..
aku berpuisi pada aliran air bening yang beriak dipermukaan ..
aku berkisah pada tepian telaga yang diam seribu bahasa ,,
dan aku menari mengikuti irama luka yang senantiasa selalu menganga ..

aku meringkuk dalam cengkraman pangeran tak berperasaan ..
aku tengadah mencoba berontak melepaskan kebencian ..
aku terikat dalam belenggu kemunafikan pertopengkan wajah tampan ..
dan aku terkapar oleh tajamnya ucapan angkuh tak bertuan ..

sayap periku terpatah-patah ..
helai per helai bunga terataiku telah jatuh ..
sahabatku angin nan sejuk tiada lagi berhembus ..
dan justru duriku semakin menusuk hingga jantungku tertembus ..

helai dedaun mengering tak mampu meneruskan bisikan ..
permukaan air bergelombang menyimpan gemuruh lirik puisi ..
tepian telaga bergetar mengartikan kisah dalam kebisuan ..
dan tarian terhenti sembari membabat alunan melodi ..

lihatlah hai pangeran tampan yang mencengkram dengan kemunafikan..
meski tiada lagi kekuatan yang terlahir akibat kebencian ..
jangan pernah lupakan peranan bibir tak bertulang mengukir ucapan ..
suatu masa akan terlihat kekuasaan Tuhan dalam pembalasan tak terkirakan oleh pemikiran ..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: